News

Dunia Terus Mengutuk Keras Tindakan Brutal Israel di Palestina, Tapi…

JAKARTA, difanews.com — Kecaman dan kutukan atas aksi kekerasan yang dilakukan Israel kepada Palestina terus membanjir. Unjuk rasa besar-besaran pun dilakukan di sejumlah negara.

Demonstran berkumpul untuk mengecam tindakan keras yang berlangsung di kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, serta rencana Israel untuk secara paksa mengusir warga Palestina dari rumah mereka di Yerusalem Timur.

Selain itu, serangan udara yang dilakukan Israel di Gaza merusak sejumlah bangunan. Akibatnya tak sedikit warga Palestina yang kini mengungsi ke sekolah yang disediakan PBB.

Mengutip AP, PBB diketahui menyediakan bangunan sekolah untuk tempat berlindung warga Palestina yang terdampak serangan udara Israel.

Para warga Palestina yang mengungsi di sekolah itu meninggalkan rumah mereka yang berada di pinggiran Kota Gaza, Jumat (14/5/2021).

Seperti diketahui, konflik antara Israel dan Palestina memanas dalam beberapa waktu terakhir. Serangan udara yang dilancarkan Israel ke Palestina pun menewaskan 113 warga di Gaza di mana 31 di antaranya merupakan anak-anak.

Jumlah korban tewas itu diketahui terus bertambah setiap harinya  disebabkan semakin masifnya gempuran udara Israel.

Warga Palestina menandai hari pertama Idul Fitri pada Kamis (13/5) kemarin di bawah pemboman udara tanpa henti. Lebih dari 580 lainnya terluka.

Serangan Israel itu juga terus berlanjut hingga hari ini, dengan gempuran udara dan peluru artileri. Aksi tersebut menunjukkan sikap Israel yang mengabaikan seruan internasional untuk tenang. Tak hanya terus membombardir Palestina, Israel juga disebut meningkatkan pengerahan pasukan dan tank di dekat wilayah Palestina. Safwat Al Kahlout dari Al Jazeera, melaporkan dari Gaza, mengatakan bahwa pada pukul 00:10 GMT pada hari Jumat, pasukan Israel berkumpul di perbatasan.

Peta Israel dan Palestina pada tahun lalu memang menjadi tanda tanya dan perdebatan di dunia. Pasalnya, nama Palestina yang tidak ada dalam peta.

Melansir CNBC, perdebatan skala global ini awalnya diletupkan oleh sebuah akun Facebook bernama Palestine International Broadcast. Akun tersebut menyatakan bahwa Palestina dihapus dari Google Maps dan Apple Maps hingga pada akhirnya mendorong Google angkat bicara.

Perwakilan dari Google menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah menggunakan nama Palestina dalam Google Maps. Lalu, sebetulnya bagaimana penampakan peta Israel dan Palestina tersebut dari dulu hingga kini?

Wilayah Israel berbatasan dengan laut Mediterania, Mesir, Yordania, Suriah, dan Libanon. Melansir dari Aljazeera, pada Februari 1948 unit militer Israel bernama Palmach mengusir penduduk Palestina.

Kemudian, organisasi pra militer Israel kembali mengusir penduduk Palestina di Jaffa hingga kurang dari 4.000 orang yang tersisa. Mereka terpinggir hingga ke Ajami. Kini Jaffa dimasukkan dalam pemerintahan Tel Aviv.

Wilayah Acre juga direbut pada tahun 1948 dan pada tahun yang sama, lebih dari 80% Yerusalem diinvasi. Sisa dari 80% wilayah tersebut kini dikenal sebagai Yerusalem Timur, yang kemudian juga direbut pada 1967.

Pada tahun 2002, Israel membangun konstruksi berupa tembok beton dan kawat berduri yang areanya sebagian besar meliputi bagian Tepi Barat. Di sisi lain, di wilayah Israel ada Tel Aviv yang merupakan kota terpadat kedua setelah Yerusalem.

Di Israel juga terdapat Highway 6 yang menjulur dari wilayah utara ke selatan Israel. Highway 6 ini adalah jalur bagi orang Israel yang berlalu-lalang antara wilayah Tepi Barat yang diduduki tersebut dan Israel.

Begitulah gambaran penampakan peta Israel dan Palestina sejak dulu hingga kini. Jika melihat di Google Maps, hingga tulisan ini ditulis pun nama Palestina tidak ada di dalam peta.

Menurut Christine Leuenberger, seorang akademika dari Cornell University yang merupakan ahli sejarah dan sosiologi Israel-Palestina, menurutnya nama Palestina memang tidak akan pernah ada.

Leuenberger mengatakan bahwa nama Palestina biasanya dikaitkan dengan sejarah Palestina sebelum dibentuknya negara Israel dan tidak digunakan di media mainstream Barat, begitu seperti dilansir dari CNBC.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker