News

Di Balik Bau Sampah PDU Prabumulih, Ada Energi dan Harapan yang Terus Tumbuh

Mengubah Tumpukan Plastik Menjadi Nilai Ekonomi, Menghidupi Pekerja, dan Mengurangi Beban Sampah ke TPA

PRABUMULIH, DIFANEWS – Matahari baru saja terbit dan belum meninggi, jam di tangan menunjukkan pukul 08.00 WIB. Langit terpantau cerah berwarna biru, cuaca pun berangsur panas menyentuh kulit.

Tetapi, aktivitas di Pusat Daur Ulang (PDU) Prabumulih berada di Jalan Sungai Medang, Kecamatan Cambai, Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) telah bergerak dan mulai sibuk.

Di tempat ini, kondisi kotor dan bau menyengat menjadi pemandangan dilihat dan  aroma dihirup setiap hari oleh pekerja. Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin menjijikkan. Namun bagi belasan pekerja, bau itu justru menjadi napas kehidupan. Di sinilah ada energi dan harapan bagi mereka setiap harinya, mengais rezeki.

Di balik gunungan sampah ini, tersimpan kisah tentang perjuangan, keterbatasan pendidikan, kemiskinan, dan harapan untuk mengubah masa depan keluarga.

Tempat itu merupakan fasilitas pengolahan sampah milik Pemerintah Kota (Pemkot) Prabumulih yang dibangun sejak 2018 dan mulai beroperasi 2019. Sejak awal, pengelolaannya mendapat pendampingan melalui program tanggung jawab sosial PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 melalui PT Pertamina EP (PEP) Field Prabumulih. Sebagai bentuk kepedulian terhadap sekitar perusahaan, mengedepankan isu lingkungan dan pengolahan sampah plastik.

Energi tidak melulu berbicara listrik, migas, dan lainnya. Tetapi, juga tentang energi kehidupan dan perjuangan diceritakan lokasi itu dalam pengelolaan sampah plastik.

Di atas lahan seluar sekitar 1 Hektare (Ha) tampak sejumlah pekerja, telah memulai aktivitas pengelolaan sampah yang berjarak sekitar 17,4 kilometer (KM)  atau 30 menit dari pusat kota.

Ada yang mulai menyortir sampah anorganik atau kebanyakan sampah plastik. Seperti botol, tali, cangkir plastik, dan lainnya. Ada juga, pekerja menghidupkan mesin pres. Lalu, mulai mencacah menggunakan mesin cacah, dan lainnya.

Suara deru dari mesin pres dan mesin cacah, menjadi penghibur para pekerja dalam menjalankan aktivitasnya di fasilitas tersebut setiap harinya.

Lokasi ini dipenuhi tumpukan sampah plastik diolah dari barang tidak bermanfaat, menjadi bernilai ekonomis dan menjadi secercah harapan bagi pekerja  pusat daur ulang tersebut.

Selain itu, risiko kesehatan juga mengancam para pekerja setiap hari. Seperti penyakit kulit, gatal, dan lainnya. Namun, itu tidak menjadi ancaman bagi para pekerja di sana agar dapur tetap menyala dan demi sesuap nasi.

Meski demikian, hampir 6 tahun beroperasi para pekerjanya, tidak peduli dengan kondisi tersebut. Tanpa ragu bekerja setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB, mengais rezeki guna masa depan pekerja dan keluarganya.

Setidaknya, ada 33 orang di lokasi itu menggantungkan hidupnya ketika volume sampah plastik tinggi. Namun, saat ini hanya 15 orang secara rutin menggantungkan hidupnya di sana.

“Setiap hari, sampah berhasil diolah mencapai 3 ton. Berasal dari pemulung, tukang sampah, sekolah-sekolah, klinik, RS, mitranya, Bank Sampah, dan lainnya,” ujar Doni, Koordinator Pengelola PDU Prabumulih, Doni atau disapa Pak Dalang, Jumat, 3 Juli 2026.

Lanjut Pak Dalang, setiap hari memang secara rutin  baik sepeda motor atau mobil sampah masuk ke lokasi tersebut guna mengantarkan sampah plastik.

“Sejauh ini, sumber sampah kita adalah plastik. Hampir 90 persen kita kelola dari barang tidak bermanfaat, menjadi bernilai guna,” ceritanya.

 

Bau Sampah Plastik Menjadi Nafas Kehidupan

Saat ini ada belasan hingga puluhan orang mengantungkan hidupnya mendaur ulang, bekerja setiap hari dari pagi hingga sore hari untuk menghidupi keluarganya.

Salah satunya, Purnaniraya, 38 tahun,  disapa Mak Anggra ketika dibincangi awak media, ia tengah sibuk memilah sampah tali plastik berwarna kuning sisa pengepakan sampah plastik dan memasukkan ke dalam karung untuk diolah lebih lanjut.

5 tahun sudah ia mengabdi dan berkecimpung dengan sampah plastik, tanpa rasa jijik mengolah sampah plastik kotor dan bau. Keterbatasan pendidikan, hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja tidak bisa membuat pilihan lain selain mengais rezeki.

“Awalnya, suami saya, Yadia bekerja di sini. Suami saya, dulunya pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sungai Medang,” jelas ibu dua anak ini, sambil menyebutkan, kalau dirinya dahulu pedagang makanan keliling.

Namun, karena hasilnya pas-pasan dan tidak mencukupi kebutuhan hidup hingga banyak hutang, sering ditagih tetapi belum bisa membayar. Tak jarang membuat hatinya sedih, dan pilu tidak punya uang.

Akhirnya, ia pun memilih ikut pekerjaan sang suami. Penghasilannya pun sangat lumayan, mampu membayar hutang hingga melunasinya dan menyekolahkan kedua anaknya hingga saat ini.

“Setiap minggunya, kita bisa dapat uang Rp 1,8 juta hingga Rp 2 juta dari bekerja di sini. Alhamdulillah, sangat cukup menopang perekonomian kami sekeluarga,” ulasnya dengan penuh senyuman.

Saat ini, ia dan suami tinggal di rumah dalam komplek pusat daur ulang itu, dari hasil bekerja di sana saat ini telah memiliki 2 kaplingan tanah nantinya akan dibangun rumah bagi keluarganya.

“Memang  bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, mengurusi sampah memilahnya. Tetapi, saya sama suami senang bekerja di sini. Pak Doni, sangat perhatian dan peduli kepada kami. Selain itu, gaji diterima lancar dan jika ada keperluan dibantu Pak Doni,” tuturnya berterima kasih.

Perempuan bertubuh lumayan besar, berambut lurus dan panjang mengenakan kaos setengah lengan bermotif garis dan celana berwarna coklat bergaris berharap dengan kerja di sini, bisa meningkatkan taraf hidupnya dan anaknya bisa bersekolah hingga Perguruan Tinggi (PT) meski cuaca terik menghantuinya setiap hari bekerja membuat tubuhnya berkeringat dan kepanasan. Namun, hal itu tidak masalah asalkan bisa mengubah nasib anak-anaknya, agar tidak bekerja serupa dengannya saat ini.  Dua anaknya, saat ini bersekolah di Kelas IV Sekolah Dasar (SD) dan Kelas I Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) .

Selain  itu, ia berharap tanah dimilikinya bisa dibangun rumah lewat program bedah rumah Pemkot Prabumulih. Seperti diterima sangat mertuanya, tinggal di Talang Sako Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Prabumulih Timur.

“Tanah sudah ada, mudah-mudahan bisa dapat program bedah rumah dari Pemkot Prabumulih,” akunya.

Soal ancaman kesehatan, tidak membuatnya gentar. Dianggap hal biasa, jika sakit kulit dan gatal ia tinggal beli obat saja dan tak lama sembuh. “Kita akui imej bekerja di sini, memang tak semua orang menghargai. Tetapi, asalkan anak-anaknya bisa makan dan sekolah tidak peduli omongan orang,” tambahnya.

Tidak hanya itu saja, bahkan di sekolah anaknya terkadang mendapatkan cemooh karena profesinya sebagai pengelola sampah plastik. Tetapi, itu tidak mengapa. Ia memberikan nasehat kepada anaknya, lebih baik bisa makan dan sekolah dari hasil kerja tersebut ketimbang jadi pengangguran dan tidak punya pekerjaan.

Cerita terbilang tidak jauh berbeda juga dialami, Terjadi alias Yadi, 37 tahun kini sebagai Kepala Gudang. Hampir 6 tahun bekerja, ia telah merasakan manfaatnya bagi keluarganya.

Yadi bercerita, sebelum bekerja di sini ia adalah pengelola lingkungan di Talang Sako, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Cambai. Namun, pendapatan tidak seberapa dan tidak mencukupi keperluan keluarganya, seperti sekarang ini.

Namun, sejak dibukanya pada 2019, ia pun mengais rezeki di sana. Hanya, lulusan SD dan tidak tamat SMP sehingga tidak punya ijazah. Membuatnya, tidak ada pilihan lain buat menafkahi keluarga selain bekerja di pengelola sampah karena punya pengalaman mumpuni.

“Alhamdulillah, sudah 6 tahun bekerja di PDU Prabumulih. Anak saya 2 orang, satu duduk di Kelas II SMP dan 1 lagi duduk di Kelas II SMK, cukup buat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tukas pria bertubuh sedikit gelap dan kurus, menggunakan topi biru dan memakai baju kaos hijau dan bercelana pendek berwarna coklat.

Ia tak sendirian mengais rezeki di lokasi tersebut melainkan bersama sangat istri, Eri Vera, 30 tahun. Selain bisa menyekolahkan sang anak, dari hasilnya bekerja juga telah mampu membangun rumah sederhana di Talang Sako Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Prabumulih Timur.

Soal penyakit akibat bekerja sebagai pengelola sampah plastik ini di kondisi bau dan kotor, tidak menjadi halangan bagi dirinya dan istri. Kalau sakit, yah tinggal membeli obat dan tak lama sembuh dan selama bekerja hanya penyakit ringan saja di alaminya.

“Setiap minggu, bekerja di sini bisa mendapatkan uang Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Sangat cukup, untuk menopang hidup sekeluarga,” jelasnya.

Ia mengaku, terpaksa bekerja seperti ini agar bisa menghidupi istri dan dua anaknya. “Saya berharap dengan pendidikan diberikan, bercita-cita boleh hingga bisa anak kuliah dan tidak senasib dengan saya dan bisa hidup lebih baik,” harapnya.

Serupa juga dirasakan, Soldi, 17 tahun, pemuda putus sekolah ini telah bekerja sekitar 2 tahun di sini sebagai operator mesin pres plastik.

Tergolong baru bekerja di tempat itu, diri ketika dibintangi awak media tidak memakai baju dan hanya menggunakan celana pendek berwarna coklat kini sudah bisa menghidupi diri sendiri dan membantu orang tuanya dari hasil pekerjaannya itu.

Ia hanya tamatan SD saja, sebelumnya bekerja sebagai pemulung di TPA Sungai Medang dengan penghasilan tak seberapa dan terbatas serta tak menentu. Makanya, ia bersyukur bisa bekerja di sini dan mendapat penghasilan setiap bulannya mencapai sekitar Rp 2 juta sebagai pendapatan bersih.

Pemuda ini, juga tinggal di rumah disediakan, makan ia tanggung dan juga bisa beli pulsa sendiri. “Hasil kerja di sini, saya bisa beli Handphone (HP) . Kemudian, perbaiki sepeda motor, dan bantu orang tua di kampung. Kalau dahulu buat makan sehari-hari saja tidak cukup,” tugas pria bertubuh kecil dan gelap terbakar matahari.

Warga Kelurahan Sungai Medang ini mengaku, bersyukur dan senang bisa bekerja di sini. Apalagi, pengelolanya sangat baik. “Jika kita butuh uang, buat keperluan mendadak bisa kasbon terlebih dahulu. Nanti, kalau gajian tinggal dipotong,” bebernya, sambil menyebutkan, kalau masalah kesehatan memang sering menghantui.

Ini sedikit sepenggal cerita, kalau kehadiran pusat daur ulang itu sebagai secercah harapan bagi pekerjanya dan bisa mengubah kehidupan pekerja bergantung kepadanya bisa menjadi lebih baik.

 

Dari Sampah Plastik Menjadi Energi

Kehadiran tempat tersebut yang didirikan Pemkot Prabumulih melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memang, salah satu upaya mengatasi permasalahan sampah di Prabumulih. Selain itu, memberikan peluang kerja bagi masyarakat sekitarnya ikut berperan dalam pengelolaan sampah plastik.

Sejak berdiri, kehadirannya cukup mengurangi sampah masuk ke TPA Sungai Medang setiap harinya mencapai 30 ton hingga 35 ton.  Kini, berkurang menjadi 25 – 30 ton.

Setiap harinya setidaknya paling sedikit sekitar 3 ton dan paling banyak sekitar 10 ton, sampah plastik bisa dikelola mengusung Reduce Reuse Recycle (3R).

Doni, Koordinator Pengelola Sampah PDU Prabumulih menjelaskan, sejak beroperasi telah mampu mempekerjakan sebanyak 33 orang di kala volume sampah plastik tinggi masuk.

“Tadinya, tidak berguna kita olah menjadi barang jadi dan setengah jadi,” terang Pak Dalang.

Saat ini, bebernya, hanya tersisa belasan orang pekerja aktif setiap harinya bekerja mengolah sampah dari pagi hingga sore hari.

Sejak beroperasi, ucapnya telah menjadi mitra binaan PT PHR Zona 4 melalui PEP Field Prabumulih.

Lewat program Corporate Social Responsibility (CSR), PEP Field Prabumulih memberikan kontribusi besar dalam pengelolaan sampah plastik dengan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) bernama Pengelolaan Sampah Mandiri dan Berkelanjutan (PADU PADAN).

“Setiap hari sampah masuk, rata-rata 3 ton kita kelola diangkut mobil sampah,” tukasnya.

Sampah anorganik berjenis plastik berhasil diolahnya lewat berbagai proses pengolahan. Antara lain; press, cacah, dan dilelehkan.

“Menghasilkan produk setengah jadi, yaitu ballpres, plastik cacahan aneka warna, dan papan plastik. Sedangkan, produk jadi adalah furniture plastik,” jelasnya.

Produk tersebut, kata dia, dijual ke sejumlah daerah. Antara lain; Palembang, Lampung, Jakarta, Tangerang, Cirebon, dan lainnya.

Sebagai mitra binaan perusahaan pelat merah terbesar di Indonesia jelas sejak 2019 mendapatkan program pembinaan berupa pelatihan pemilahan sampah, pengolahan sampah, dan lainnya.

Termasuk, bantuan sarana dan prasarana peralatan pendukung pengelolaan sampah plastik. “Seperti; perapian, mesin cuci sampah plastik, mesin pres, mesin papan dan lainnya,” ungkapnya.

Doni merinci, kalau proses pengelolaan sampah plastik hingga menjadi produk cukup panjang. Prosesnya, dari sampah masuk, pemilahan atau sortir hingga penjemuran dan pengepakan.

Pemilahan sendiri, kata dia, terdiri dari pemilahan partai, dan pemilahan siap proses. Lanjut, diproses atau dicacah sesuai proses.

“Setiap bulan 90 – 100 ton sampah berhasil dikelola, membantu Pemkot Prabumulih mengurangi sampah plastik masuk ke TPA Sungai Medang,” ucapnya.

Ketika COVID – 19 melanda, Doni mengenang, lokasi ini hampir tutup disebabkan, tidak bisa mengirim barang ke luar daerah. Karena, mobil angkutan tidak melintas.

Selain itu juga, harga plastik ketika itu mengalami anjlok di bawah Rp 2 ribu perkg-nya. Meski demikian, tempat ini tetap beraktivitas hingga bisa bertahan sejauh ini.

Tidak bisa dipungkiri, kendala pasti ada dalam pengelolaan sampah digelutinya. Mulai sulitnya mencari orang punya keahlian memilah sampah, karena butuh pelatihan. Sebagai, bagian dari regenerasi.

Termasuk juga, mesin yang dimiliki sudah cukup berumur. Perlu, upgrade baru namun terkendala biaya pembelian mesin cukup mahal.

“Harga plastik saat ini normal, seperti plastik cacah harganya mulai Rp 4 ribu – 9 ribu perkg tergantung jenis. Kemudian, plastik pres dari harga Rp 2.500 sampai Rp 8 ribu perkg. Kita juga menjual olahan kaca dan kertas sudah jadi sampah,” merinci.

Pemerhati  Lingkungan, Adu Susanto SE menyampaikan, kalau daur ulang sampah plastik memang sangat efektif dalam pengurangan sampah di Prabumulih.

Pria berkacamata dan berambut gondrong ini mengatakan, daur ulang sampah ini hendaknya melibatkan komunitas-komunitas lingkungan di Prabumulih.

“Sehingga, program daur ulang sampah ini diperluas. Tidak hanya sebatas, pengelolaan sampah saja. Tetapi, menghasil produk rumah tangga dari sampah plastik,” saran Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Prabumulih Menggugat (APM) Prabumulih.

Ia pun memberikan masukan, agar para ibu rumah tangga diberikan pelatihan dan pembinaan dilakukan pusat daur ulang tersebut, sehingga bisa menyulap sampah ini menjadi bernilai ekonomi. Sehingga, bisa meningkatkan pendapatan dan  ekonomi pelaku daur ulang sampah plastik.

“Daur ulang sampah plastik, inti memberikan manfaat lebih luas dan memang harus terus berkelanjutan. Menjadi pionir pengelolaan sampah plastik tidak hanya di Prabumulih, tetapi menggerakkan ekonomi dan kehidupan masyarakat,” harapannya.

 

Menjadi Laboratorium Daur Ulang Sampah Plastik di Sumsel

Lokasi ini, tidak hanya sebagai pusat pengolahan sampah plastik saja. Kini, juga sebagai pusat pembelajaran dan laboratorium daur ulang sampah plastik di Sumsel.

Banyak daerah, datang jauh-jauh ke Prabumulih guna belajar keberhasilan PDU Prabumulih dalam pengelolaan sampah plastik.

“Kalau di Sumsel, sering sekali dikunjungi sejumlah DLH kabupaten/kota buat studi banding atau belajar pengelolaan sampah plastik di sini, kita senang bisa saling berbagi,” kata dia.

Selain kabupaten/kota, PT banyak menurunkan mahasiswa untuk datang juga dalam rangka belajar dan mengulas tata cara pengolahan sampah plastik berhasil dikelola. Pengelolaan sampah plastik, berbasis masyarakat.

“Terbaru, mahasiswa dari Universitas Gajah Mada (UGM) datang ke sini. Lalu, sebelumnya dari Universitas Indonesia (UI) juga demikian berkunjung dan belajar,” ucapnya.

PDU perlahan berkembang menjadi pusat pembelajaran daur ulang di Sumsel. Tempat ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi secara nyata.

 

Hadir Bantu Kurangi Sampah Plastik

Saat ini, TPA Sungai Medang dikelola DLH Prabumulih melalui UPTD tidak lagi memakai sistem Open Dumping dalam pengelolaan sampah di Kota Nanas ini.

Melainkan sistem Land Fill, dinilai cukup efektif dalam pengelolaan sampah. Hal itu ditegaskan Kepala DLH Prabumulih, Drs Mulyadi Musa MSi ketika berbicara bersama awak media.

“PDU Prabumulih, salah satu solusi nyata memang digagas guna mengurangi volume sampah masuk ke TPA Sungai Medang. Khususnya, sampah plastik berbagai jenis. Mengutamakan, sistem pengelolaan sama Reduce, Reuse, Recycle (3R),” aku Mulyadi.

Volume sampah masuk ke TPA Sungai Medang, kata Mulyadi kini relarif berkurang dari sebelum ada kehadiran lokasi daur ulang ini. “Diangkut menggunakan 16 mobil sampah milik UPTD TPA Sungai Medang, kemudian ada 15 mobil jenis pick up milik umum serta 35 sepeda motor sampah. Kini, tersisa 25 – 30 ton,” akunya.

Masalah sampah memang telah menjadi problem sejak lama, adanya PDU Prabumulih di dukung PHR Zona 4, PEP Field Prabumulih jelas sangat membantu mengurangi volume sampah plastik masuk ke TPA Sungai  Medang.

Harapannya, memang program ini terus berlanjut dan memberikan dampak positif tidak hanya mengurangi volume sampah plastik, tetapi juga memberikan peluang kerja masih masyarakat sekitar.

“Kesadaran memilah, dan mengelola sampah. Khususnya, sampah plastik dari tidak bermanfaat menjadi bernilai ekonomis,” bebernya.

 

Sentuhan Memberi Harapan dan Solusi Masalah Sampah Plastik

Kehadiran kegiatan hulu migas, tidak hanya sebatas produksi saja guna menjaga ketahanan energi nasional. Sebagai perusahaan penghasil energi tidak terbarukan PHR Zona 4, PEP Field Prabumulih sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, mengelola sampah plastik menjadi bermanfaat dan bernilai ekonomis, maka ada pusat daur ulang ini.

“Ini bentuk Tanggung Jawab Sosial Lapangan (TJSL). Salah satunya, memberikan dukungan pemanfaatan sampah plastik di lokasi tersebut, saat ini dari program PADU PADAN telah berkembang menjadi Rumah Inovasi Daur Ulang Sampah Residu Anorganik (RINDU RESIK),” cerita Senior Manager (SM) PEP Field Prabumulih, Muhammad Lutfhi Ferdiansyah.

Program pembinaan dan pelatihan pengelolaan sampah plastik, akunya sebagai modal utama atau bekal keberhasilan program PADU PADAN hingga RINDU RESIK. Tidak hanya pembinaan dan pelatihan saja, tetapi juga bantuan alat pendukung pengelolaan sampah plastik.

“Perusahaan mendapatkan PROFER emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2025 silam dan sejumlah penghargaan lainnya tentang lingkungan,” tukas Lutfhi.

Sejauh ini, bebernya pendampingan terhadap program tersebut masih terus berlangsung guna mendorong kemandirian energi di sana. Apalagi, saat ini sudah dikelola secara baik dan banyak masyarakat bergantung hidup mengais rezeki di sana

“Kehadirannya diharapkan tidak hanya sekedar mengurangi volume sampah plastik, masuk ke TPA Sungai Medang. Tetapi juga, memberi arti hadirnya energi sebagai secercah harapan para pekerjanya, mewujudkan hidup lebih baik dan keluarga menuju lebih sejahtera,” tukasnya.

 

Menjadi Sumber Kehidupan dan Harapan Terus Menyala

Menjelang sore hari matahari mulai tenggelam, sekitar pukul 18.00 WIB. Tampak para pekerja ada yang memilih lembur hingga malam dan ada yang membersihkan diri sebelum pulang. Bau sampah masih melekat di pakaian mereka, tetapi tidak menghapus senyum yang mengembang di wajah.

Di tangan-tangan yang setiap hari bergelut dengan sampah, tersimpan harapan yang tak pernah ikut terbuang. Di balik bau yang sering dihindari banyak orang, lahir energi, penghidupan, dan masa depan yang lebih baik. Melalui pendampingan PHR Zona 4, PEP Field Prabumulih, PDU bukan sekadar tempat mengolah sampah, tetapi juga ruang yang mengubah limbah menjadi nilai, dan mengubah perjuangan menjadi harapan. (*)

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − three =

Back to top button