AI News

Hulu Migas Hadir, Panen Meningkat, Petani Makin Sejahtera

PALI, DIFANEWS – Siapa sangka, lahan pertanian yang dahulu kerap dilanda gagal panen kini berubah menjadi hamparan sawah produktif yang menghasilkan beras berkualitas tinggi. Dari tempat yang sama, lahir pula kisah tentang kebangkitan ekonomi petani, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan ketahanan pangan daerah.

Perubahan itu terjadi di Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Kehadiran Program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability (PUJANGGA) yang diinisiasi PT Pertamina EP (PEP) Pendopo Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional Sumatra Zona 4, menjadi titik balik bagi kehidupan puluhan petani di wilayah tersebut.

Di balik keberhasilan itu terdapat sosok Sutarni, seorang petani perempuan yang pernah merasakan pahitnya hidup di tengah ketidakpastian hasil panen.

Salah satu lapangan produksi migas di wilayah PEP Pendopo Field, penunjang produksi.

Sekitar sepuluh tahun lalu, kehidupan Sutarni jauh dari kata sejahtera. Sawah yang menjadi sumber penghidupan keluarganya mengalami kerusakan akibat serangan jamur yang dipicu penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Belum sempat pulih, dua tahun kemudian lahan tersebut kembali dihantam serangan ulat grayak yang menyebabkan panen gagal.

Kondisi ekonomi keluarganya pun semakin terpuruk. Untuk membeli pupuk, Sutarni harus berutang ke toko. Tagihan listrik menunggak dan biaya sekolah anaknya tertunda hingga enam bulan.

Saat itu, kehidupan petani di Talang Ubi Utara memang penuh tantangan. Hasil panen rata-rata hanya berkisar 2,5 hingga 3 ton per hektare dengan harga jual sekitar Rp10 ribu per kilogram. Sementara biaya produksi terus meningkat akibat tingginya ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya semakin mahal.

Dengan kondisi tersebut, rata-rata pendapatan petani hanya sekitar Rp2,5 juta per bulan. Jumlah yang nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Meski demikian, Sutarni tidak menyerah. Ia mulai mencari berbagai alternatif untuk mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen. Pilihannya jatuh pada pertanian organik. Namun keterbatasan pengetahuan dan modal membuat langkah itu tidak mudah diwujudkan.

Harapan baru hadir pada 2021 ketika PEP Pendopo Field meluncurkan Program PUJANGGA sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong kemandirian masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Melalui program tersebut, Sutarni bersama petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Rejomulyo dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela mendapatkan pelatihan, pendampingan, serta bantuan sarana dan prasarana pertanian organik.

Para petani diajarkan cara memulihkan kesuburan tanah menggunakan pupuk berbahan dasar jerami dan kotoran ternak. Mereka juga dibekali teknik pembibitan yang lebih efisien serta metode pengendalian hama alami menggunakan asap batok kelapa dan larutan susu, telur, serta madu.

Tidak hanya itu, perusahaan juga menyediakan sekretariat kelompok sebagai pusat aktivitas dan pembelajaran petani serta berbagai alat pendukung pertanian organik.

Hasilnya sungguh luar biasa.

Pada lahan seluas 15 hektare yang dikelola para petani binaan, kebutuhan benih yang sebelumnya mencapai 100 kilogram per hektare berhasil ditekan menjadi hanya sekitar 5 kilogram per hektare.

Penggunaan pupuk kimia yang selama ini menjadi beban utama petani juga berkurang drastis sehingga biaya produksi dapat ditekan secara signifikan.

Di sisi lain, produktivitas sawah justru meningkat tajam. Jika sebelumnya hasil panen hanya berkisar 2,5 ton per hektare, kini melonjak menjadi rata-rata 4,5 ton per hektare atau meningkat sekitar 80 persen dengan masa tanam tiga hingga empat bulan.

Kualitas beras yang dihasilkan pun semakin baik. Beras organik hasil panen petani Talang Ubi Utara kini mampu dijual hingga Rp20 ribu per kilogram, dua kali lipat dibandingkan harga sebelumnya.

Dampaknya sangat terasa bagi kehidupan petani. Pendapatan yang sebelumnya hanya sekitar Rp2,5 juta per bulan kini meningkat menjadi rata-rata Rp8 juta per bulan.

“Dulu hasil panen tidak menentu, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sering tidak cukup. Sekarang produksi beras meningkat berkat pertanian organik dan kami para petani bisa hidup lebih layak,” ungkap Sutarni.

Keberhasilan tersebut tidak berhenti pada peningkatan hasil panen. Sutarni kemudian memperluas manfaat program dengan membangun ruang pemberdayaan bagi perempuan di desanya.

Grafis peranan kegiatan hulu migas terhadap pertanian metode organik di wilayah PEP Pendopo Field.

Pada 2024, ia mendirikan Kelompok Wanita Tani Rosela yang tidak hanya fokus pada budidaya pertanian, tetapi juga menjadi wadah belajar, berusaha, dan berinovasi bagi kaum perempuan.

Saat ini sebanyak 20 anggota kelompok aktif mengelola lahan seluas setengah hektare di kawasan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Pendopo Field.

Berbagai tanaman herbal dan tanaman obat keluarga seperti rosela, jahe, kunyit, kencur, bawang dayak, pegagan, kumis kucing, sambiloto, serta aneka sayuran dibudidayakan di lahan tersebut.

Hasil panen kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti Teh Rosela, bandrek, peyek, dan stik ubi yang dipasarkan kepada masyarakat.

Dari usaha tersebut, KWT Rosela mampu menghasilkan pendapatan kelompok sekitar Rp2 juta per bulan. Selain itu, kelompok ini juga aktif memberikan edukasi kepada pelajar dan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga serta pentingnya pertanian ramah lingkungan.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan keberhasilan yang diraih para petani di Talang Ubi Utara menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang tepat mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata.

“PHR Zona 4 ingin memastikan masyarakat di sekitar wilayah operasi bisa tumbuh bersama seiring kehadiran perusahaan. Ibu Sutarni menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat yang tepat dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Manager PEP Pendopo Field, Hermansyah, menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada pencapaian target produksi migas, tetapi juga berkomitmen menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan program pertanian organik di Talang Ubi Utara menjadi bukti bahwa operasi migas dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan.

“Keberhasilan operasi migas harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Karena itu kami terus mendorong berbagai program pemberdayaan yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” kata Hermansyah.

Ia menjelaskan, PEP Pendopo Field merupakan salah satu lapangan migas strategis di bawah PHR Regional Sumatra Zona 4 yang wilayah operasinya tersebar di Kabupaten PALI, Muara Enim, Musi Banyuasin, dan Musi Rawas.

Grafis hasil produksi migas di lingkungan PEP Pendopo Field dan PHR Zona 4.

Meski tergolong lapangan migas yang telah matang (mature field), Pendopo Field terus melakukan berbagai upaya optimalisasi produksi melalui pengeboran pengembangan, reaktivasi sumur, optimalisasi reservoir, dan penerapan teknologi produksi yang efisien.

Saat ini Pendopo Field menjadi salah satu tulang punggung produksi migas PHR Zona 4 dengan kontribusi produksi minyak sekitar 5.000 barel minyak per hari (BOPD).

“Di tengah upaya menjaga produksi migas, kami juga memastikan kehadiran perusahaan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Program pertanian organik ini menjadi bukti bahwa ketahanan energi dan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

General Manager PHR Zona 4, Djudjuwanto, mengatakan bahwa keberhasilan program pemberdayaan masyarakat di Talang Ubi Utara merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di sekitar wilayah operasi.

Menurutnya, PHR Zona 4 tidak hanya berfokus menjaga keberlangsungan operasi dan produksi migas nasional, tetapi juga memastikan manfaat kehadiran industri dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kami meyakini keberhasilan operasi hulu migas harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Karena itu berbagai program pemberdayaan terus kami dorong agar mampu menciptakan masyarakat yang mandiri, produktif, dan berdaya saing,” ujar Djudjuwanto.

Ia menjelaskan, Pendopo Field merupakan salah satu aset strategis yang berkontribusi penting terhadap pencapaian target produksi PHR Zona 4.

Pada 2026, PHR Zona 4 menargetkan produksi minyak sebesar 30.305 barel minyak per hari (BOPD) dan produksi gas bumi sebesar 485 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Target tersebut didukung seluruh lapangan yang berada di bawah pengelolaan PHR Zona 4, termasuk PEP Pendopo Field yang menjadi salah satu penyumbang utama produksi migas perusahaan.

“Melalui semangat kolaborasi dan inovasi, kami berupaya menjaga keseimbangan antara pencapaian target produksi energi nasional dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian manfaat keberadaan industri hulu migas dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan,” tegasnya.

Apresiasi juga datang dari Bupati PALI, Asgianto ST. Menurutnya, program yang dijalankan PHR Zona 4 dan PEP Pendopo Field telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta mendukung agenda pembangunan daerah.

“Program seperti ini sangat kami apresiasi karena memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Tidak hanya meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan,” ujar Asgianto.

Bupati PALI, Asgianto panen padi salah satu sektor penunjang di Kabupaten PALI bersinergi bersama PEP Pendopo Field.

Ia berharap keberhasilan yang diraih KWT Rosela dan Kelompok Tani Rejomulyo dapat menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya di Kabupaten PALI.

“Pemerintah Kabupaten PALI mendukung penuh program-program pemberdayaan yang mendorong kemandirian masyarakat. Apa yang dilakukan PHR Zona 4 melalui Pendopo Field membuktikan bahwa dunia usaha dapat menjadi mitra strategis dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Senada dengan itu, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri SH, menilai program pertanian organik tersebut menjadi contoh nyata bagaimana industri hulu migas mampu memberikan dampak positif di luar sektor energi.

“SKK Migas terus mendorong seluruh KKKS untuk menjalankan program pengembangan masyarakat yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan. Program pertanian organik yang dijalankan PHR Zona 4 ini menjadi contoh bagaimana sektor hulu migas dapat berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan daerah,” kata Syafei.

Respon SKK Migas, atas keberhasilan PEP Pendopo Field dalam peranannya dalam program pemberdayaan masyarakat di wilayahnya.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut menunjukkan bahwa operasi migas dan pembangunan masyarakat dapat tumbuh secara harmonis.

“Ketika operasi migas berjalan baik dan masyarakat di sekitar wilayah operasi juga berkembang, maka akan tercipta hubungan yang harmonis dan saling mendukung. Inilah yang terus didorong SKK Migas bersama seluruh pelaku industri hulu migas di Indonesia,” pungkasnya.

Selain itu, kata Syafei, keberhasilan kegiatan hulu migas memang butuh peran aktif masyarakat, pemerintah, dan stakeholder. Karena, migas energi tidak terbaharukan.

“Tanpa adanya dukungan, tentunya tidak akan berhasil dan memberikan dampak multi efek kegiatan hulu migas terhadap sekitar perusahaan dan wilayah operasi,” jelasnya.

 

Kisah Sutarni menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana. Dari sawah yang dulu kerap gagal panen dan menghasilkan pendapatan minim, kini tumbuh harapan baru yang menghidupkan ekonomi keluarga, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta membuktikan bahwa kehadiran industri hulu migas mampu membawa manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari Talang Ubi Utara, sebuah pesan kuat tersampaikan: ketika energi untuk negeri dipadukan dengan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, maka kesejahteraan bukan sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan bersama. (*)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + 15 =

Back to top button