News

Danau Shuji Lembak, Saat Transisi Energi Mengubah Kehidupan

Pemanfaatan PLTS, Wujudkan Energi Bersih

MUARA ENIM, DIFANEWS – Energi bersih, kini menjadi pilihan dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional.  Salah satunya, penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dinilai efisien dan efektif.

Bisa mengurangi energi fosil, dan memangkas pengunaan energi listrik hingga 50 persen saja. Danau Shuji berada di Desa Lembak, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim telah memanfaatkannya

Berkolaborasi bersama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, PT Pertamina EP (PEP) Field Prabumulih kini Danau Shuji berjarak sekitar 70 hingga 78 kilometer (KM) atau sekitar 1,5 – 2 jam, sedangkan jarak dari pusat Kabupaten Muara Enim adalah sekitar 103 kilometer atau 2,5 – 3 jam. Kini, PLTS menjadi salah satu andalan pasokan listrik di sana.

Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ini, secara tidak langsung merupakan bentuk transisi energi dari energi listrik ke energi surya, sebagai pemberi kehidupan bagi penghuni lokasi bekas markas tentara Jepang tersebut.

Juga, sebagai penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan di Danau Shuji melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) perusahaan pelat merah terbesar di Indonesia.

Transisi Energi Dimulai dari Danau Shuji

Danau Shuji, kini menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Sumatera Selatan (Sumsel), menjadi pilihan tempat liburan atau rekreasi keluarga. Tidak hanya, wisatawan dari kabupaten/kota di Sumsel datang berkunjung tetapi juga pusat tujuan bagi wisatawan dari luar daerah. Seperti; Jakarta, Lampung, Bandung, dan lainnya.

Digagas Bob Permana, atau dikenal Panglima Lembak sejak 2020, danau ini tadinya hutan dipenuhi ilalang dan pohon karet sulap jadi indah dan cantik seperti sekarang secara bergotong royong dan bertahap. Berada di lahan sekitar 4 Hektar (Ha) di Desa Lembak.

“Saat ini, Danau Shuji telah berkembang pesat serta mandiri, juga sebagai pemberi kehidupan masyarakat sekitar,” ujar Bob Lembak, sapaan akrabnya, Minggu, 5 Juli 2026.

Didukung perusahaan penghasil energi fosil ini, sejak 2023. Akhirnya, PLTS di lokasi tersebut hadir sebagai simbol transisi energi. Berukuran, 1 x 2 meter persegi, berjumlah 10 keping sehingga panjangnya 4 x 10 meter terletak di sebelah kiri, pintu masuk tempat membayar tiket.

Jelas ini, memberikan dampak langsung kepada pengelolaan danau tersebut, selama ini bergantung dengan energi listrik, kini bisa menghemat atau efisiensi energi listrik hingga 50 persen. Tadinya, harus mengeluarkan biaya listrik setiap bulannya mulai Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.

Kini bisa dipangkas menjadi Rp 3 juta hingga Rp 4 juta saja. Penopang penerangan danau tersebut, khususnya di malam hari.

“PLTS kita mempuyai kapasitas daya, sistem ini memiliki kapasitas sebesar 8,72 kWp (kilowatt-peak). Dilengkapi dengan infrastruktur baterai berkapasitas 10 kWh,” terangnya.

Menurutnya, hampir beroperasi sekitar 3 tahun, PLTS ini memang sangat bermanfaat bagi danau dikelolanya berkat dukungan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) .

“Sumber listrik dari PLTS ini, juga kita manfaatkan buat organ tunggal sebagai hiburan bagi pengunjung ke lokasi ekowisata tersebut,” ceritanya.

Memang pembangunan PLTS ini, jelas membutuhkan biaya lumayan mahal sebagai investasi jangka panjang di bidang energi. Namun, berkat support perusahaan migas ini hal itu jelas menjadi lebih mudah dan ringan.

“Kalau beli sendiri jelas PLTS tersebut, modalnya bisa Rp 150 – 200 juta harganya di pasaran. Kita dibantu PHR Zona 4, PEP Field Prabumulih sangat berguna bagi kemandirian energi di sini,” terangnya.

Dampak Pengunaan PTLS di Danau Shuji

  • Dulu

Tagihan listrik

Rp 7 juta

↓

PLTS 8,72 kWp

↓

  • Kini

Rp 3 juta

↓

Hemat ±50%

↓

Emisi turun

11.336 kg CO₂eq/tahun

↓

30 pekerja

↓

8 UMKM

↓

Wisata berkembang

PLTS Menjadi Penggerak Kawasan Wisata

Sebagai energi terbarukan, PLTS di Danau Shuji ini tidak sekedar transisi energi tetapi wujud kemandirian energi. Apalagi, sifatnya berkelanjutan dan memiliki dampak besar bagi secara ekonomi, sosial, dan masyarakat.

Menghilangkan ketergantungan terhadap energi fosil, dalam operasional penerangan di danau tersebut. Di tengah situasi geopolitik saat ini, kehadiran energi jelas sangat efektif sekali.

Senior Manager PEP Field Prabumulih, Muhammad Luthfi Ferdiansyah, menjelaskan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bekerja dengan memanfaatkan sinar matahari yang ditangkap panel surya berbasis sel fotovoltaik (PV) untuk menghasilkan listrik arus searah (DC). Selanjutnya, inverter mengubahnya menjadi arus bolak-balik (AC) sehingga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional.

Menurut Luthfi, listrik dari PLTS di Danau Shuji dimanfaatkan untuk penerangan jalan, lampu taman, fasilitas umum, dan berbagai sarana pendukung kawasan wisata. Pemanfaatan energi surya ini mampu menekan biaya operasional, menjaga pasokan listrik pada siang hari, serta mendukung pengembangan fasilitas wisata.

PLTS Danau Shuji, penopang energi listrik selain PLN menunjang operasi ekowisata tersebut.

“PLTS merupakan teknologi energi baru terbarukan yang memanfaatkan sinar matahari menjadi listrik. Energi yang dihasilkan dapat langsung dimanfaatkan sehingga lebih hemat, efisien, dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, panel surya memiliki umur operasional lebih dari 25 tahun dengan perawatan yang relatif sederhana. Selain mengurangi ketergantungan pada listrik berbahan bakar fosil, PLTS juga berkontribusi menekan emisi karbon dan mendukung target dekarbonisasi nasional.

“PLTS di Danau Shuji bukan hanya menyediakan listrik, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat, meningkatkan daya tarik wisata, serta menjadi bukti bahwa energi bersih mampu memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan,” tutup Luthfi.

Info Grafis

Alur Kerja PLTS di Danau Shuji

☀️ Energi Matahari

⬇

🔋 Panel Surya (Photovoltaic)

Mengubah cahaya matahari menjadi listrik DC

⬇

⚡ Inverter

Mengubah listrik DC menjadi listrik AC

⬇

🔌 Distribusi Listrik

Disalurkan ke fasilitas wisata Danau Shuji

⬇

🏞️ Operasional Danau Shuji

Penerangan kawasan

Lampu taman

Fasilitas umum

Tempat Pembelian Tiket

Sarana pendukung wisata

Dari Tempat Terbengkalai Menjadi Destinasi Wisata

Tanpa adanya dukungan sektor BUMN, nampaknya perkembangan lokasi ekowisata di Kabupaten Muara Enim ini tidak sepesat ini.

Di awal perkembangannya, Bob Lembak bergotong royong secara bertahap membersihkan lokasi tersebut. Sarana prasarana, masih sangat terbatas sekali sebagai lokasi wisata. Hanya ada, pondokan-pondokan sederhana saja. Lalu, perahu kecil, dan lainnya.

Namun, dukungan tersebut membuka percepatan perkembangan Danau Shuji. Tidak hanya bantuan sarana prasarana saja. Kini, telah lengkap fasilitasnya. Ada pondokan bagus, mainan bebek-bebekan, perahu besar, dan lainnya.

Menghidupkan setidaknya 30 warga bekerja di lokasi tersebut, dan 8 Usaha Mikeo Kecil Menengah (UMKM). Berupa, pedagang besar jualan di lokasi tersebut hingga saat ini.

Danau Shuji, ekowisata kebanggaan Desa Lembak, dan tempat rekreasi warga sekitar dan luar Kabupaten.

“Betul, kehadiran danau ini memberikan kehidupan baru bagi warga sekitar. Saya dahulunya sempat bekerja di Hotel Palembang. Kini, pulang kampung sudah sekitar 3 tahun belakangan mengurus danau ini dikenal objek wisata viral di Kabupaten Muara Enim dan sekitarnya,” beber Rani, Pengelola Tiket.

Ia menuturkan, di hari biasa pengunjung hanya berjumlah sekitar 30 – 50 orang. Namun, di akhir pekan bisa mencapai 130 – 150 orang berkunjung. “Adanya, PLTS sangat membantu kita menjalankan operasional danau ini. Apalagi, jika terjadi mati lampu sehari. PLTS memang menjadi andalan listrik di sini,” katanya mengulas.

Tiket masuk, jelasnya hanya Rp 5 ribu per orang. Biaya parkir sepeda motor Rp 3 ribu, dan mobil Rp 5 ribu saja. Menurutnya, banyak cara dilakukan wisata menikmati keindahan danau ini.

Ada menyewa saung mulai Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu, akunya ada menyewa bebek-bebman Rp 20 ribu. Kemudian, perahu Rp 5 ribu per orang, minimal empat orang. “PTLS ini, juga bagian dari pengerak roda kehidupan di danau ini,” sebut perempuan bertubuh gemuk ini.

Rincunya, aktivitas ekonomi memang terus bergerak di sini didukung kehadiran PLTS sebagai energi pendukungnya. Wisata sengaja datang ke danau ini, memang tujuannya menikmati keindahan dan juga fasilitas dimilikinya.

Kehadiran energi terbarukan ini, memang memberikan manfaat dan dampak bagi wisatawan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) , pengelola, dan lainnya. PLTS ini, sebagai energi alternatif mengurangi emosi karbon.

Saat Energi Bersih Mengubah Kehidupan

Deretan panel surya yang membentang di kawasan wisata Danau Shuji bukan sekadar menjadi simbol pemanfaatan energi terbarukan. Di balik listrik yang dihasilkan PLTS, tersimpan kisah tentang perubahan kehidupan masyarakat yang menggantungkan harapan di kawasan wisata tersebut.

Sejak dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis energi bersih, Danau Shuji tidak hanya menghadirkan ruang rekreasi bagi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan warga, hingga mengubah taraf hidup keluarga.

Alwi, 23 tahun, yang akrab disapa Tole, menjadi salah satu saksi perubahan itu. Selama sekitar 4 tahun bekerja sebagai perawat PLTS, ia bertanggung jawab memastikan ratusan panel surya tetap berfungsi optimal.

“Panel harus dibersihkan setiap tiga hari sekali supaya penyerapan sinar matahari tetap maksimal,” ujarnya.

Hamparan panel surya berukuran sekitar 4 x 10 meter persegi dengan modul berukuran sekitar 1 x 2 meter persegi itu telah beroperasi hampir tiga tahun tanpa henti. Listrik yang dihasilkan digunakan selama 24 jam untuk memenuhi kebutuhan operasional kawasan wisata.

Saung digunakan pengunjung untuk bersantai menikmati keindahan Danau Shuji ketika berekreasi ke sana.

Pada siang hari, energi dimanfaatkan untuk menghidupkan berbagai fasilitas, mulai dari sistem suara hingga lampu penerangan. Saat pasokan listrik PLN mengalami gangguan, PLTS menjadi sumber energi utama yang menjaga seluruh aktivitas tetap berjalan.

Menurut Alwi, tantangan pernah terjadi ketika salah satu instalasi mengalami kebakaran akibat kabel yang tidak mampu menahan beban arus listrik. Namun, setelah dilakukan perbaikan, sistem kembali beroperasi dengan aman.

Bagi Alwi, pekerjaan itu bukan hanya tentang merawat panel surya, tetapi juga mengubah masa depannya.

Ia mengaku tak pernah membayangkan bisa menunaikan ibadah umrah. Berkat penghasilannya, impian tersebut akhirnya terwujud pada 2024.

“Saya tidak pernah bermimpi bisa berangkat umrah. Dari bekerja di sini saya bisa menabung, memenuhi kebutuhan keluarga, membeli kendaraan, bahkan membangun kandang ayam,” tuturnya merupakan penduduk sekitar.

Perubahan serupa dirasakan Yanti, 51 tahun, pedagang yang telah berjualan sejak Danau Shuji dibuka sekitar 6 tahun lalu.

Sebelumnya, ia hanya menjadi ibu rumah tangga. Kini, usaha kecil yang dijalankannya mampu menambah pendapatan keluarga sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per hari.

Yang paling ia rasakan adalah manfaat kehadiran PLTS ketika listrik PLN padam. “Kalau listrik mati, mesin es krim dan kulkas tetap hidup karena memakai listrik dari PLTS. Minuman tetap dingin dan es krim tidak mencair,” katanya.

Keberadaan listrik yang stabil membuat usahanya tetap berjalan tanpa khawatir mengalami kerugian akibat makanan atau minuman rusak.

Manfaat ekonomi juga dirasakan Safril, 49 tahun. Selama empat tahun terakhir, ia bekerja sebagai petugas kebersihan sekaligus mengelola penyewaan saung di kawasan wisata tersebut.

Pedangang Danau Shuji, mengandalkan PLTS, untuk mendinginkan makanan dan minuman dijualnya.

Selain bertani, pekerjaan di Danau Shuji menjadi sumber tambahan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Dalam sehari bisa dapat lebih dari Rp 100 ribu. Kalau pengunjung ramai, pendapatan tentu meningkat,” ujarnya.

Danau Shuji kini memang tidak hanya menjadi ruang ekonomi bagi warga sekitar, tetapi juga menjadi tujuan wisata masyarakat dari berbagai daerah.

Wulan, salah seorang pengunjung asal Niru, mengaku rela menempuh perjalanan cukup jauh demi menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Tempatnya nyaman, cocok untuk hiburan keluarga. Perjalanannya jauh, tapi terbayar karena suasananya menyenangkan,” katanya.

Kisah Alwi, Yanti, Safril, hingga Wulan menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar menghadirkan teknologi ramah lingkungan.

Menjadi Desa Energi Berdikari, Danau Shuji Wujudkan Kemandirian

Di Danau Shuji, energi bersih telah menjadi penggerak ekonomi masyarakat, menjaga roda usaha tetap berputar, membuka kesempatan kerja, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi banyak keluarga. Panel-panel surya yang menangkap cahaya matahari setiap hari kini juga memancarkan manfaat nyata bagi kehidupan warga di sekitarnya.

Berawal dari kawasan pembuangan sampah di tengah pandemi COVID-19, Danau Shuji di Desa Lembak, Kabupaten Muara Enim, kini menjelma menjadi desa wisata yang mandiri. Gagasan Bob Lembak bersama para pemuda setempat berhasil mengubah kawasan tersebut menjadi destinasi wisata yang membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

Transformasi itu didukung Program Pengembangan Masyarakat (PPM) Pertamina EP Prabumulih Field melalui pelatihan pengelolaan desa wisata serta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 8,72 kWp dengan baterai 10 kWh. Selain menjadi sumber listrik alternatif, PLTS juga menjadi sarana edukasi mengenai transisi energi.

Program yang berjalan pada 2021–2025 tersebut telah memasuki tahap exit program, menandai kemandirian pengelolaan Danau Shuji. Kini, destinasi wisata itu mampu menyerap sekitar 30 tenaga kerja saat akhir pekan dan musim liburan, sekaligus mendorong berkembangnya UMKM lokal seperti kerupuk, opak, dan kemplang.

“Yang terpenting bagi kami adalah lingkungan menjadi lebih bersih, pemuda memiliki kegiatan positif, dan masyarakat memperoleh tambahan penghasilan,” ujar Bob.

Pompa angguk, menyedot minyak mentah ke pipa di sumur produksi di lokasi PEP Field Prabumulih.

Manager Community Involvement and Development PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan PPM Pertamina EP Prabumulih Field berkomitmen menciptakan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Menurutnya, pemanfaatan PLTS di Danau Shuji mampu mengurangi emisi hingga 11.336 kg CO₂eq per tahun sekaligus menekan biaya operasional kawasan wisata.

Transformasi Danau Shuji membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan, didukung energi bersih, mampu melahirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Pemerintah Berharap Program PPM, PLTS Bisa Menyentuh Masyarakat Kurang Mampu

Pemerintah Desa (Pemdes) Lembak, berharap program PPM yang dijalankan melalui pemanfaatan PLTS dapat terus diperluas sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat, khususnya kalangan kurang mampu.

Kepala Desa (Kades) Lembak, Jumadi, mengatakan program yang didukung PEP Prabumulih Field tersebut telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Selain menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan, PLTS juga mampu menekan biaya operasional sehingga anggaran dapat dialihkan untuk pengembangan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi warga.

“Program ini menjadi bukti bahwa transisi energi tidak hanya berbicara soal teknologi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami berharap ke depan program PPM berbasis PLTS dapat terus dikembangkan dan menyentuh lebih banyak masyarakat yang membutuhkan,” ujar Jumadi.

Menurutnya, kehadiran PLTS di kawasan Desa Lembak membuka peluang lahirnya berbagai kegiatan ekonomi masyarakat. Efisiensi biaya listrik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan publik maupun mendukung pengembangan destinasi wisata dan usaha masyarakat setempat.

SKG Lembak, salah satu penunjang produksi migas PEP Field Prabumulih di Desa Lembak. 

Jumadi menilai kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial menjadi langkah nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Ia berharap sinergi tersebut terus berlanjut agar manfaatnya semakin luas.

“Harapan kami, program seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Masyarakat kurang mampu juga perlu mendapat akses terhadap energi bersih yang terjangkau sehingga kualitas hidup mereka bisa meningkat,” katanya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, penggunaan energi surya juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan di tingkat desa.

Ia optimistis keberhasilan implementasi PLTS melalui program PPM dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghadirkan pembangunan yang ramah lingkungan sekaligus berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Danau Shuji bukan hanya menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya, tetapi menunjukkan bagaimana transisi energi dapat menciptakan manfaat yang terukur bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara PHR Zona 4, PEP Field Prabumulih dan warga, energi bersih menjadi penggerak kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

PLTS Danau Shuji, Info Grafis

Kapasitas PLTS : 8,72 kWp

Baterai: 10 kWh

Penghematan listrik : ±50%

Tagihan listrik : Rp 5–7 juta → Rp 3–4 juta/bulan

Pekerja : 30 orang

UMKM : 8 unit

Lama pendampingan : 2021–2025

Luas kawasan : 4 hektare

Bantuan : PHR Zona 4, PEP Field Prabumulih

Sumber data : Danau Shuji dan PEP Field Prabumulih

(rin)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − three =

Back to top button