ArtikelOpini

Belajar dari Asia Timur, Azka Aufary Ramli Nilai Intervensi Negara pada Sektor Kunci Sangat Vital

DIFANEWS.COM – Tokoh pengusaha dan aktivis ekonomi, Azka Aufary Ramli, menyampaikan bahwa pendekatan state-guided capitalism atau kapitalisme terpandu negara merupakan arah kebijakan yang paling realistis dan strategis untuk menjaga stabilitas serta ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Dalam pernyataan resminya, Azka menegaskan bahwa dunia saat ini tidak lagi berada dalam era pasar bebas tanpa batas, melainkan memasuki fase kompetisi antarnegara yang semakin intens, ditandai oleh proteksionisme, perebutan teknologi, serta ketidakpastian rantai pasok global.

“Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar semata. Kita membutuhkan negara yang hadir sebagai pengarah strategis, bukan untuk mematikan pasar, tetapi untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan stabil, berdaulat, dan berpihak pada kepentingan nasional,” ujar Azka.

Negara sebagai Orkestrator Ekonomi

Menurut Azka, state-guided capitalism menempatkan negara sebagai orkestrator pembangunan yang menetapkan arah jangka panjang, menjaga sektor vital, serta menciptakan ekosistem usaha yang sehat bagi sektor swasta dan UMKM.

Ia menilai model ini telah terbukti efektif di berbagai negara Asia Timur yang berhasil melakukan transformasi ekonomi secara cepat namun tetap stabil.

“Tidak ada negara besar yang lahir dari pasar bebas murni tanpa arah. Negara-negara yang sukses justru memiliki visi strategis dan keberanian intervensi pada sektor-sektor kunci,” jelasnya.

Azka menambahkan bahwa Indonesia memiliki karakteristik ekonomi yang unik — kaya sumber daya alam, populasi besar, dan kesenjangan wilayah — sehingga membutuhkan pendekatan yang mampu menyeimbangkan efisiensi pasar dengan perlindungan kepentingan nasional.

Hilirisasi dan Infrastruktur sebagai Contoh Nyata

Lebih lanjut, Azka menyoroti kebijakan hilirisasi sumber daya alam serta pembangunan infrastruktur nasional sebagai contoh nyata keberhasilan peran negara dalam mengarahkan ekonomi.

Menurutnya, kebijakan tersebut meningkatkan nilai tambah domestik, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

“Hilirisasi menunjukkan bahwa intervensi negara yang tepat dapat mengubah struktur ekonomi dari berbasis komoditas mentah menjadi industri bernilai tambah tinggi,” tegasnya.

Stabilitas sebagai Prioritas Utama

Azka juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa stabilitas hanya akan menghasilkan kerentanan terhadap krisis. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa liberalisasi tanpa penguatan institusi dapat berujung pada guncangan sistemik.

Dalam konteks ketidakpastian global saat ini — mulai dari konflik geopolitik hingga disrupsi teknologi — negara perlu memiliki instrumen untuk melindungi kepentingan domestik.

“Tujuan utama pembangunan ekonomi bukan hanya pertumbuhan tinggi, tetapi stabilitas jangka panjang dan kesejahteraan rakyat. Negara harus memastikan bahwa pasar bekerja untuk bangsa, bukan sebaliknya,” katanya.

Menuju Indonesia Emas 2045

Azka meyakini bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, didukung bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta posisi geopolitik strategis.

Namun, ia menekankan bahwa potensi tersebut hanya dapat terwujud melalui arah kebijakan yang konsisten dan kepemimpinan ekonomi yang kuat.

“Indonesia tidak kekurangan sumber daya atau talenta. Yang kita butuhkan adalah orkestrasi nasional yang jelas. State-guided capitalism menawarkan keseimbangan antara pertumbuhan, stabilitas, dan kedaulatan ekonomi,” ungkap Azka, salah satu tokoh pengusaha dan penggerak berbagai inisiatif ekonomi, industry, serta pengembangan ekosistem bisnis dan komunitas di Indonesia.

Menutup pernyataannya, Azka menegaskan bahwa negara tidak boleh bersikap pasif di tengah kompetisi global yang semakin keras.

“Jika kita ingin keluar dari middle-income trap dan mewujudkan Indonesia Emas 2045, negara harus menjadi arsitek masa depan ekonomi bangsa — bukan sekadar penonton,” pungkas tokoh yang aktif mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan Masyarakat dalam rangka memperkuat daya saing nasional, ini.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button