ArtikelOpini

Catatan Sepakbola Indonesia Akhir Tahun 2025: Kritik Tajam Untuk Erick Thohir Meninggalkan “8 Dosa”

DIFANEWS.COM – Menjelang tutup tahun 2025, sepakbola Indonesia kembali jadi bahan sorotan. Lewat sebuah catatan yang dipublish Sportanews, pengamat sepakbola Yoseph Erwiyantoro mengulas panjang delapan “dosa” atau kegagalan yang dinilai mencoreng arah dan kemajuan sepakbola nasional di era kepemimpinan Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSS

Artikel yang ditulis oleh Aba Mardjani ini menempatkan banyak keputusan dan dinamika internal sebagai batu yang bertaring terhadap figur Thohir, terutama soal cara ia terpilih menjadi ketua umum PSSI, yang disebut melibatkan praktik kurang terpuji dan mekanisme jual beli suara di kongres.

Dalam catatan tersebut, awal kepemimpinan Erick Thohir disebut tidak pernah benar-benar steril dari kontroversi. Sejak Kongres PSSI 16 Februari 2023, muncul tudingan praktik pembelian suara demi mengamankan kursi ketua umum isu lama yang kembali mencuat dan membayangi janji perubahan sejak hari pertama.

Tulisan itu juga menyinggung masalah klasik dalam sepakbola Indonesia yang terus mengemuka sepanjang 2025:

1. Lahir dari Sistem yang Sama

Sejak awal, kepemimpinan Erick Thohir sudah dibayangi tanda tanya. Proses pemilihannya dalam Kongres PSSI pada 16 Februari 2023 dinilai tak sepenuhnya lepas dari praktik politik lama. Alih-alih memutus rantai tersebut, kepemimpinan baru justru dianggap lahir dari mekanisme yang sudah lama dikritik.

Reformasi dijanjikan, tapi fondasinya masih sistem lama.


2. Manuver Suara, Cerita Lama

Dalam catatan itu, dinamika pemilihan ketua umum kembali disorot. Dugaan manuver dan transaksi suara disebut tak jauh berbeda dari era-era sebelumnya. Nama boleh berganti, tapi cara mainnya terasa familiar.

Bagi banyak pengamat, ini membuat jargon perubahan terdengar kurang meyakinkan.


3. Sepakbola dan Panggung Pencitraan

Erick Thohir dinilai piawai membangun narasi. Sayangnya, sepakbola Indonesia kerap terasa lebih sering jadi panggung pencitraan ketimbang ruang kerja yang sunyi dan serius. Banyak pernyataan besar, tapi dampak nyatanya belum selalu terasa sampai ke akar rumput.

Sepakbola butuh kerja panjang, bukan sekadar headline.


4. Tragedi Kanjuruhan, Titik Balik yang Menggantung

Tragedi Kanjuruhan semestinya jadi momen pembenahan total. Namun dalam catatan tersebut, tragedi ini dinilai lebih sering dibingkai sebagai simbol moral ketimbang dijadikan pijakan reformasi menyeluruh—mulai dari keamanan stadion, manajemen liga, hingga budaya pertandingan.

Luka nasional ini belum sepenuhnya dijawab dengan perubahan sistemik.


5. Transparansi yang Masih Kabur

Soal keuangan, tanda tanya juga belum hilang. Muncul pertanyaan internal terkait aliran dana dan kerja sama tertentu yang tak sepenuhnya dijelaskan ke publik. Transparansi yang dijanjikan sebagai roh reformasi justru masih terasa abu-abu.

Padahal, kepercayaan publik dibangun dari keterbukaan.


6. Janji Mundur yang Mengambang

Salah satu pernyataan Erick Thohir yang paling diingat adalah kesediaannya mundur jika target tim nasional tak tercapai. Hingga akhir 2025, komitmen itu kembali dipertanyakan. Janji yang tak pernah benar-benar diuji perlahan kehilangan bobotnya.

Di sepakbola, konsistensi adalah mata uang utama kepemimpinan.


7. Timnas Naik, Tapi Belum Melompat

Tak bisa dipungkiri, ada progres di tim nasional. Namun catatan ini menilai lonjakannya belum cukup besar. Hasil internasional masih naik-turun, sementara fondasi jangka panjang belum sepenuhnya kokoh.

Narasi perubahan besar belum sepenuhnya sejalan dengan kenyataan di lapangan.


8. Pembinaan Usia Muda Masih Jadi PR Lama

Isu klasik kembali muncul: pembinaan usia muda. Janji ini selalu hadir di setiap rezim PSSI, tapi hasil konkretnya masih minim. Sistem belum terintegrasi, jalur pembinaan belum konsisten, dan ketertinggalan dari negara Asia lain masih terasa.

Padahal, masa depan sepakbola Indonesia ditentukan di sini.


Delapan catatan ini mengerucut pada satu kesimpulan: perubahan di sepakbola Indonesia masih terasa di permukaan. Erick Thohir datang dengan modal nama, jaringan, dan dukungan namun persoalan mendasar belum sepenuhnya tersentuh.

Menjelang 2026, publik kembali menunggu. Apakah PSSI benar-benar berani memutus pola lama, atau hanya mengulang sejarah dengan kemasan berbeda.

Sumber: Sportanews – Aba Mardjani, “Catatan Sepakbola Indonesia Akhir Tahun 2025: 8 Dosa Erick Thohir”

Show More

Muhammad Fanber

Penulis Difanews.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button