Mangrove Menahan Abrasi, Menumbuhkan Harapan Masyarakat Pesisir
Benteng Hijau di Ujung Banyuasin, Menjaga Keseimbang Alam
BANYUASIN, DIFANEWS – Deru angin laut berembus lembut di tepian Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin. Air pasang perlahan menyusuri sela-sela akar mangrove yang menjulur kokoh ke dalam lumpur. Dari kejauhan, hamparan hijau itu tampak biasa. Namun bagi masyarakat pesisir, mangrove adalah benteng kehidupan.
Ketika gelombang datang menghantam pantai, mangrove berdiri paling depan. Saat abrasi mengancam daratan, akar-akarnya menjadi penahan. Ketika ikan, udang, dan kepiting membutuhkan tempat berkembang biak, hutan mangrove menyediakan rumah bagi mereka.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin nyata, keberadaan mangrove menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai penjaga garis pantai, tetapi juga sebagai penyangga kehidupan ribuan masyarakat pesisir yang menggantungkan masa depannya pada laut.

Kesadaran itulah yang mempertemukan SKK Migas Sumbagsel, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Pemerintah Desa Sungsang IV, serta Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel dalam kegiatan penanaman mangrove di kawasan pesisir Sungsang IV.
Kegiatan yang berlangsung pada Agustus 2025 itu bukan sekadar seremoni menanam pohon. Di balik bibit-bibit yang ditancapkan ke lumpur pesisir, tersimpan harapan besar untuk menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Abrasi, Ancaman yang Terus Mengintai
Bagi masyarakat pesisir, abrasi bukanlah istilah yang hanya terdengar dalam seminar atau laporan penelitian.

Abrasi adalah ancaman nyata. Setiap tahun, gelombang dan arus laut terus mengikis tepian pantai. Sedikit demi sedikit daratan menyusut. Jika tidak dikendalikan, abrasi dapat merusak ekosistem, mengancam permukiman warga, bahkan menghilangkan kawasan pesisir yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Di wilayah pesisir Banyuasin yang berada di muara Sungai Musi dan berhadapan langsung dengan Selat Bangka, ancaman tersebut selalu ada.
Karena itu, menjaga mangrove menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mempertahankan wilayah pesisir.

Akar mangrove yang rapat mampu meredam energi gelombang sebelum mencapai daratan. Sistem perakarannya menangkap lumpur dan sedimentasi sehingga membantu menjaga kestabilan garis pantai.
Tak berlebihan jika mangrove sering disebut sebagai benteng alami pesisir.
Menjaga Lingkungan adalah Menjaga Masa Depan
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri SH, mengatakan upaya pelestarian mangrove merupakan bagian dari komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, keberadaan mangrove memiliki manfaat yang sangat besar, tidak hanya bagi ekosistem tetapi juga bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

“Penanaman mangrove ini bukan sekadar kegiatan simbolis. Ini adalah bentuk sinergi dan kolaborasi dalam menjaga lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Syafei menegaskan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja.
Diperlukan kerja sama antara pemerintah, perusahaan, masyarakat, akademisi, dan media agar upaya pelestarian dapat berjalan berkelanjutan.
“Mangrove yang ditanam hari ini mungkin baru akan dirasakan manfaat maksimalnya beberapa tahun ke depan. Karena itu diperlukan komitmen bersama untuk menjaganya,” katanya.
Dari Mangrove, Alam Memberi Kehidupan
Manager Field Community and CID Medco, Hirmawan Eko, menyebut mangrove sebagai salah satu ekosistem paling penting di wilayah pesisir.
Menurutnya, manfaat mangrove jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai penahan abrasi.
Mangrove merupakan rumah bagi berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan satwa lainnya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Selain itu, mangrove juga dikenal sebagai penyerap karbon yang sangat efektif sehingga berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

“Mangrove bukan sekadar pohon. Mangrove adalah benteng alami yang menjaga pesisir dari abrasi, menjadi penyerap karbon yang efektif, sekaligus menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir,” ujarnya.
Ia menjelaskan, upaya rehabilitasi mangrove yang dilakukan di kawasan Sungsang mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah jenis ikan yang sempat berkurang mulai kembali ditemukan di sekitar kawasan mangrove.
Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa alam akan memberikan balasan ketika dirawat dengan baik.
“Pemulihan ekosistem memang membutuhkan waktu. Tetapi manfaatnya sudah mulai dirasakan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan adalah investasi yang sangat berharga,” katanya.
Wartawan Menanam, Wartawan Mengabarkan
Di tengah kegiatan penanaman mangrove, puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas Sumsel turut turun ke kawasan berlumpur.
Tangan-tangan yang sehari-hari akrab dengan keyboard, kamera, dan telepon genggam kini berganti memegang bibit mangrove.
Ketua Forum Jurnalis Migas Sumsel, H Oktaf Riady SH, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus pemahaman baru mengenai pentingnya menjaga kawasan pesisir.
Menurutnya, mangrove tidak hanya berfungsi menjaga lingkungan, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat.

“Kami melihat langsung bagaimana mangrove memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain mencegah abrasi, kawasan ini menjadi habitat berbagai jenis ikan dan satwa, serta membuka peluang ekonomi melalui wisata dan produk olahan mangrove,” ujarnya.
Oktaf mengapresiasi konsistensi SKK Migas dan KKKS yang terus melakukan rehabilitasi mangrove di wilayah Sungsang.
Ia menilai keberhasilan pelestarian lingkungan harus terus disampaikan kepada publik agar semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kawasan pesisir.
“Kami sebagai wartawan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat. Lingkungan yang terjaga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau perusahaan, tetapi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kawasan mangrove dari ancaman sampah yang dapat merusak ekosistem.
“Menanam mangrove saja tidak cukup. Lingkungan sekitar juga harus dijaga. Jika mangrove lestari, manfaatnya akan kembali kepada masyarakat sendiri,” tambahnya.
Menjaga Kekayaan Alam Banyuasin
Camat Banyuasin II, Ahmad Riduan SH MSi, mengatakan kawasan Sungsang merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki kekayaan alam luar biasa.
Selain dikenal sebagai kawasan perikanan, wilayah ini juga memiliki potensi wisata alam yang terus berkembang.
Menurutnya, keberadaan mangrove menjadi aset berharga yang harus dijaga bersama karena memberikan manfaat ekologis dan ekonomi sekaligus.

“Mangrove tidak hanya menjaga lingkungan. Mangrove juga mendukung sektor perikanan, pariwisata, dan ekonomi masyarakat. Karena itu pelestariannya harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan penanaman mangrove dapat terus berlanjut sehingga kawasan pesisir Banyuasin semakin kuat menghadapi ancaman abrasi dan perubahan iklim.
Ketika Mangrove Menggerakkan Ekonomi Desa
Bagi Kepala Desa Sungsang IV, Romi Hardiansyah, manfaat mangrove sudah dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Selain melindungi kawasan pesisir dari abrasi, mangrove juga menjadi pintu masuk bagi lahirnya berbagai kegiatan ekonomi produktif.
Saat ini masyarakat Sungsang IV mengembangkan berbagai produk unggulan berbahan dasar hasil laut dan mangrove, mulai dari pempek udang, sirup pedada, dodol pedada, hingga berbagai produk olahan lainnya.
Kawasan mangrove juga terus dikembangkan sebagai destinasi ekowisata dan eduwisata yang menarik minat wisatawan.
“Banyak peranan SKK Migas dan KKKS di Sungsang IV. Keinginan masyarakat menjaga lingkungan sangat besar karena mereka merasakan langsung manfaatnya bagi ekonomi dan kehidupan sehari-hari,” ujar Romi.
Menurutnya, semakin baik kondisi lingkungan, semakin besar pula peluang masyarakat untuk berkembang.
Karena itu, pelestarian mangrove bukan hanya urusan lingkungan, melainkan juga investasi ekonomi jangka panjang bagi desa.
Menanam Pohon, Menanam Masa Depan
Siang mulai beranjak ketika bibit-bibit mangrove terakhir ditanam di tepian pesisir.
Lumpur masih menempel di sepatu para peserta. Keringat membasahi pakaian. Namun tak ada yang mengeluh.
Semua memahami bahwa apa yang dilakukan hari itu jauh lebih besar daripada sekadar menanam pohon.
Setiap bibit yang ditancapkan ke tanah adalah harapan baru. Harapan agar abrasi tidak lagi menggerus daratan.

Harapan agar ikan dan udang tetap berkembang biak. Harapan agar nelayan tetap memiliki sumber penghidupan.
Harapan agar anak cucu kelak masih dapat melihat pesisir yang hijau dan lestari.
Di ujung Banyuasin, benteng hijau itu terus tumbuh.
Akar-akarnya mencengkeram tanah, menahan gerusan gelombang, melindungi kampung-kampung nelayan, sekaligus menjaga keseimbangan alam.
Dan selama mangrove tetap berdiri tegak di tepian Sungsang, harapan bagi masa depan pesisir akan selalu hidup. (*)



