News

Ratusan Siswa dan Guru Terdampak Keracunan MBG di Palupuh Agam, Korban Tembus 334 Orang

DIFANEWS.COM — Kasus dugaan keracunan massal usai mengonsumsi hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), menuai sorotan publik.

Hingga kini, tercatat sedikitnya 334 orang yang terdiri dari siswa hingga guru di Kecamatan Palupuh terpaksa menjalani perawatan medis akibat insiden tersebut.

Camat Palupuh, Nong Rianto Dt Maruhum, membenarkan bahwa insiden tersebut terjadi usai para penerima manfaat menyantap sajian dari program MBG. Para korban tersebar di tiga wilayah nagari setempat.

“Korban tidak hanya berasal dari satu daerah, melainkan tiga nagari di Kecamatan Palupuh, yakni Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang. Total sementara mencapai 334 orang,” ujar Rianto, Kamis (3/9).

Kronologi Kejadian dan Gejala Keracunan

Kepala SDN 08 Nan Limo, Jonnedi, mengungkapkan bahwa para siswa terakhir kali mengonsumsi hidangan MBG pada Senin (31/8) tanpa menunjukkan keluhan secara langsung.

Namun, gejala baru mulai timbul secara serentak pada Selasa (1/9) sekitar pukul 10.00 WIB. Sejumlah siswa dan guru mengeluhkan rasa pusing, mual, muntah, demam, hingga diare hebat.

“Para siswa dan guru yang bergejala langsung dilarikan ke Puskesmas Palupuh dan beberapa rumah sakit rujukan di Kota Bukittinggi untuk mendapatkan penanganan darurat,” jelas Jonnedi.

Rincian Korban dan Penyelidikan BPOM

Berdasarkan data sementara dari pihak kecamatan, dari total 334 korban terdampak, rinciannya meliputi 274 siswa SD, 19 guru SD, 40 siswa SMPN 1 Palupuh, serta 2 guru dari sekolah tersebut.

Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, mengonfirmasi insiden ini dan menyatakan pihak Dinas Kesehatan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah melakukan investigasi intensif untuk memastikan penyebab pasti keracunan.

“Dugaan awal mengarah pada hidangan dari dapur penyedia MBG di Palupuh. Saat ini Dinkes dan BPOM sudah berkoordinasi melakukan investigasi sampel makanan,” ungkap Iqbal.

Dapur Operasional MBG Diberhentikan Sementara

Wali Nagari Koto Rantang, Novri Agus Parta Wijaya, mengonfirmasi bahwa menu masakan yang dikonsumsi para korban diproduksi oleh Dapur Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh.

Atas insiden ini, Pemerintah Kabupaten Agam mengambil langkah tegas dengan menghentikan seluruh aktivitas operasional di dapur penyedia tersebut.

“Untuk sementara waktu, kami meminta dapur MBG tersebut berhenti beroperasi total sampai hasil investigasi resmi keluar,” tegas Iqbal.

Sebelum insiden di Agam (Sumatera Barat), kasus keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menimpa Pondok Pesantren Manba’ul Hikam di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

Dalam kejadian tersebut, lebih dari 400 santri hingga ratusan siswa di lembaga pendidikan sekitarnya mengalami gejala mual dan pusing usai mengonsumsi menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.

Selain di pesantren tersebut dan wilayah Palupuh, Agam, kasus dugaan keracunan MBG tercatat terjadi di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya:

  • Sidoarjo, Jawa Timur: Kasus di Ponpes Manba’ul Hikam dan 19 sekolah terdampak di wilayah Tanggulangin (Sidoarjo).
  • Pasuruan, Jawa Timur: Menimpa belasan siswa di SMAN 1 Pandaan.
  • Lampung: Terjadi di beberapa wilayah, termasuk di SMPN 1 Talangpadang (Tanggamus) serta SDN 22 Tegineneng dan SMPN 15 Pesawaran (Kabupaten Pesawaran).
  • Cianjur, Jawa Barat: Menimpa puluhan balita dan ibu menyusui di Kecamatan Leles yang menerima bantuan MBG via posyandu, serta di beberapa sekolah dasar setempat.
  • Bandung Barat, Jawa Barat: Kasus di Kecamatan Cipongkor yang berdampak pada ratusan siswa dari berbagai jenjang.
  • Kota Yogyakarta: Menimpa ratusan siswa di SMAN 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta.
  • Ketapang, Kalimantan Barat: Terjadi pada murid dan guru di SDN 12 Benua Kayong.
  • Sukoharjo, Jawa Tengah: Terjadi pada belasan siswa di SDN Dukuh 03.
  • Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur: Menimpa belasan siswa di SD Katolik Andaluri.
  • Lebong, Bengkulu: Menimpa sejumlah murid PAUD hingga SD.

Sebagian besar pemicu keracunan di lapangan umumnya berawal dari kualitas bahan masakan (seperti sayur atau lauk yang basi/terasa asam) serta kelalaian dalam standar distribusi dari penyedia Dapur/SPPG.***

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − four =

Back to top button