Idola

Shelly, Ibu Tunggal yang Dewan Direktur AIBA

JAKARTA, DIFANEWS.COM — Jangan tanya apa prestasi Shelly Selowati H. Soejono di ring tinju, karena ia memang tak pernah aktif sebagai petinju.

Di masa belianya, Shelly, yang pernah dikenal dengan nama Nunung Selowati, adalah salah satu perenang wanita andalan Indonesia. Ia, antara lain, peraih 2 perunggu renang Asian Games 1978 di nomor 200 m gaya kupu-kupu dan 4 x 100m gaya ganti.

Tapi, mengapa kini ia bisa jadi salah satu pentolan di AIBA (Asosiasi Tinju Amatir Internasional)? Ya, Shelly kini masuk dalam jajan BoD atau Board of Director AIBA.

Ini bisa jadi cerita menarik tentu saja.

Sekitar 10 tahun lalu, Pulo Pardede (mantan Sekjen Pertina) mengajak Shelly membantu PB Pertina untuk menggelar turnamen tinju Piala Presiden XXI pada 2011 setelah vakum 9 tahun.

“Menpora yang merekomendasikan saya untuk ikut terlibat di Pertina. Dalam wawancara, saya terpilih. Kami pun sukses menggelar turnamen. Reputasi saya terpantau ASBC dan AIBA. Mereka kemudian meminta saya untuk membantu Komisi Tinju Wanita,” beber Shelly, ibu empat anak ini.

Tapi, Shelly tak langsung menerima tawaran itu. Beberapa kali ia menolak karena merasa tak punya kompetensi yang cukup untuk berkiprah di pertinjuan. Namun, berkat pendekatan yang terus menerus, Shelly akhirnya mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu dunia pertinjuan.

“Saya akhirnya mengalah dan menerima tawaran,” katanya.

Meski begitu, ketika diminta kursus ITO (International Technical Official), Shelly juga sempat menolak karena pada dasarnya bukan ia yang menginginkan jabatan itu.

Belakangan, Shelly mengakui, semakin dalam ia menyelam, semakin suka ia dengan dunia tinju. “Tinju sangat berbeda dari renang. Ini menantang dan saya ingin belajar lebih banyak. Jadi, saya akhirnya lulus ITO dan dalam dua tahun juga saya selesaikan kursus TD (Technical Delegate). Saya pun menjadi technical delegate wanita pertama di Indonesia untuk tinju.”

Kiprah itu kemudian membuatnya mulai menarik perhatian orang. Siapa wanita ini? Bagaimana ia bisa mendapatkan posisi itu? Apa yang bisa ia lakukan sebagai mantan perenang?

“Mereka mulai cemburu. Mereka tidak bisa menerima saya karena saya datang dari latar belakang yang berbeda,” bebernya.

Setelah Pertina melakukan perubahan di kepengurusan inti, Shelly ditempatkan pada posisi hubungan luar negeri. Saat itu, ia sudah duduk di Komisi Wanita ASBC (Konfederasi Tinju Amatir Asia) dan juga AIBA. Namun, wanita kelahiran Malang, 30 Maret 1966, ini juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal PB Pertina hingga 2019. Shelly menjadi perempuan pertama yang duduk sebagai Sekjen dalam 62 tahun sejarah Pertina.

Tapi, posisi Sekjen yang dijabat Shelly nampaknya bikin sejumlah orang yang enggan mengorek rekornya, gerah.

“Orang-orang yang menentang saya, sayangnya, mereka melakukannya untuk semua alasan yang salah. Saya menentang praktik manipulasi kompetisi dan tentu saja ketika saya ditunjuk sebagai manajer kompetisi Asian Games saya tidak bisa membiarkan itu terjadi,” bebernya.

Shelly Selowati (kiri) bersama Presiden AIBA Umar Kremlev.

Shelly, misalnya, berhasil menekan biaya penyelenggaraan tinju Asian Games dari Rp7 miliar menjadi Rp1 miliar. Untuk mencegah manipulasi, ia menulis surat kepada panitia penyelenggara Asian Games, INASGOC, di mana ia menjelaskan skemanya.

Sayangnya, banyak orang di sekitar tinju tidak memikirkan kepentingan terbaik tinju. Mereka lebih ingin mengeruk uang banyak. Jika Anda tidak menyingkirkan orang-orang seperti itu, Anda tidak akan pernah membangun pemerintahan yang baik dan transparansi.

“Kita tidak boleh takut mengidentifikasi hal-hal ini, bersikap transparan dengan orang lain dan mengambil tindakan yang tepat,” tandasnya.

Buat Shelly, kiprahnya di pertinjuan juga tak lain untuk menginspirasi wanita-wanita Indonesia agar tak sungkan menggeluti cabang olahraga yang sangat didominasi kaum pria ini.

Itu sebabnya ia menyerukan solidaritas di antara perempuan. “Kita harus saling mendukung, dengan cara ini kita bisa meraih lebih banyak. Saya pribadi suka melihat wanita sukses.”

Sebagai orang AIBA kini, Shelly melihat organisasi tinju dunia itu sudah berada di tangan yang benar setelah Umar Kremlev duduk sebagai Presiden.

“Tinju adalah hidup Presiden kami, Umar Kremlev. Saya tidak salah memilihnya sebagai Presiden. Ia melakukan banyak perubahan bagus untuk olahraga kami, mengorbankan waktunya, dan bisa memberi lebih banyak lagi.”

“Segala sesuatu datang dari atas. Jika pimpinan tegas, bawahan akan mengikuti,” katanya.

Shelly memang wanita pemberani. Ia bukan cuma tak takut menghadapi orang-orang yang tak menyukai dengan langkah-langkah perbaikan yang dilakukannya, tapi juga keberaniannya menjalani hidup sebagai ibu tunggal.

“Saya menjalani kehidupan yang sulit tetapi Tuhan selalu ada untuk saya. Manajemen waktu dan prioritas adalah kunci sukses. Disiplin juga penting, dan pertama-tama, kita perlu menunjukkan kepada anak-anak bagaimana kita melakukannya sendiri. Mereka akan nurut,” paparnya.

Terkait dengan PON (Pekan Olahraga Nasional) yang tengah berlangsung di Papua, Shelly mengaku pernah dua kali tampil di PON, 1977 dan 1981 stsu di éra kejayaan renang Indonesia.

“Paling sedikit saya turun di 10 nomor,” katanya. Nomor andalannya adalah 100m dan 200m kupu-kupu, tapi ia juga bisa diandalkan di 100m, 200m, 400m dan 800m gaya bebas. Selain itu, Shelly juga turun di 200m dan 400m gaya ganti perseorangan, lalu 4x100m gaya bebas dan 4 x 100m gaya ganti.

“Tapi berapa jumlah medali atau medalinya apa saja saya lupa. Pernah di 100m dan 200m gaya kupu-kupu dan 400m serta 800m gaya bebas. Selebihnya saya lupa.”

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker