AI News

Ketegangan AS-Iran Bikin Selat Hormuz Nyaris Sepi dari Kapal Tanker

IRAN, DIFANEWS – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memicu gangguan terhadap jalur pelayaran energi dunia. Serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz membuat lalu lintas kapal menurun drastis karena meningkatnya kekhawatiran terhadap keselamatan awak kapal.

Dikutip dari detikFinance, berdasarkan data International Maritime Organization (IMO), sedikitnya sembilan kapal diserang sejak 6 Juli 2026. Iran disebut berupaya memaksa kapal-kapal melintasi perairan teritorialnya, bukan melalui jalur di dekat pantai Oman yang selama ini mendapat perlindungan militer Amerika Serikat (AS).

CEO perusahaan jasa risiko maritim Marisks, Dimitris Maniatis, mengatakan volume kapal yang melintas di Selat Hormuz terus mengalami penurunan.

“Kami melihat penurunan volume kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan kini para kru kapal semakin khawatir terhadap keselamatan mereka,” ujarnya.

Pada Selasa lalu, satu pelaut dilaporkan tewas dan tiga lainnya terluka setelah kapal tanker minyak Al Bahyah diserang di lepas pantai Oman. Di hari yang sama, 11 awak kapal tanker Mombasa B juga mengalami luka-luka akibat serangan serupa.

Kepala Keamanan BIMCO, Jakob Larsen, menyebut Iran menggunakan rudal antikapal dalam sejumlah serangan tersebut. Selain ancaman rudal, jalur utama pelayaran di Selat Hormuz juga dinilai masih berbahaya akibat potensi ranjau laut yang dapat menyebabkan kerusakan besar pada kapal.

Di tengah situasi tersebut, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menghentikan sebuah kapal tanker kosong berbendera Curaçao yang menuju Pulau Kharg, Iran, setelah kapal itu mengabaikan sejumlah peringatan saat blokade laut terhadap Iran kembali diberlakukan.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi seluruh kapal selain kapal milik Iran. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal berbeda.

Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler mencatat jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun ke titik terendah dalam tiga pekan. Pada Kamis, hanya delapan kapal yang melintas, jauh berkurang dibandingkan 15 kapal sehari sebelumnya. Bahkan, analis Lloyd’s menyebut aktivitas pelayaran di selat tersebut hampir kembali lumpuh, dengan sebagian kapal memilih mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) demi alasan keamanan.

Sebelum konflik memanas, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Penurunan tajam ini dikhawatirkan dapat mengganggu distribusi minyak global dan memicu tekanan baru terhadap harga energi dunia.

Sumber: Dikutip dari detikFinance.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 + eight =

Back to top button