KesehatanNews

KBRI Washington Dorong Mahasiswa Ambil Studi Kesehatan Publik di AS

JAKARTA, difanews.com — Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Washington, D.C., Popy Rufaidah, menilai kualitas kesehatan nasional harus diiringi peningkatan jumlah ahli kesehatan masyarakat berwawasan global.

Hal ini disampaikan Popy dalam Serial Webinar Bincang Karya (Bianka) ke-18 yang mengusung tema ‘Kebijakan Kesehatan Publik’ beberapa waktu lalu dan dilansir kemdikbud.go.id, 19 November 2011.

Bianka ke-18 ini dipandu Wakil Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yodi Mahendradhata.

“Saya harap mahasiswa ataupun kalangan akademisi dan peneliti Tanah Air terdorong untuk melanjutkan studi dan menjalin kerja sama riset dan pendidikan kesehatan dengan universitas di Amerika,” terang Popy ketika dihubungi secara terpisah, Kamis (18/11).

Peluang studi dengan beasiswa bidang kesehatan publik, dikatakan Poppy, terbuka lebar seperti pada School of Global Public Health, New York University, dan juga ke Bloomberg School of Public Health, Johns Hopkins University.

Bianka diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia Washington, D.C. bersama LPDP dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Bianka merupakan rangkaian webinar yang rutin digelar setiap pekan dengan tema variatif guna meningkatkan minat studi ke Amerika Serikat dengan beasiswa.

Jamal Wiwoho, Ketua MRPTNI yang juga Rektor UNS, pada kesempatan terpisah menjelaskan, “Pemerintah perlu menyadari pentingnya investasi di bidang kesehatan dan salah satu bentuk investasi tersebut adalah lewat pendidikan yang bertujuan menghasilkan para profesional bidang kesehatan berkualitas unggul dan siap melayani masyarakat.”

Langkah itu, kata Emmanuel Agust Hartono, Direktur Keuangan dan Umum, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kementerian Keuangan, sangat didukung.

“Kami mendukung penelitian di bidang kesehatan masyarakat. Sebagai hasilnya, kami telah mendanai banyak produk dan penelitian seperti ventilator, mobile ventilator untuk pengujian Genose untuk Covid-19, bio-safety mobile lab, dan juga kerja sama dengan mitra peneliti individu dari Inggris, Jepang, Jerman, dan Thailand,” terang Agust.

Diharapkan Agust, jika ke depan Indonesia dapat bekerja sama dengan Amerika Serikat di bidang kesehatan, khususnya para penerima Beasiswa LPDP, kontribusi aktif dan maksimal dapat makin diberikan pada bangsa dan negara.

Chair of the Department of Public Health Policy and Management, School of Global Public Health, New York University (NYU), Jose A. Pagan, mempresentasikan Program Master of Public Health (MPH) dan Program Doctor of Public Health (DPH) serta kesempatan kerja sama yang mungkin terjalin.

Dikatakan Jose, kampusnya merupakan kampus dengan keberagaman. “Terbukti ada kurang lebih 39 bahasa diucapkan oleh mahasiswa internasional yang studi di NYU,” kata Jose.

Sementara itu, Ketua Program MPH, Bloomberg School of Public Health, Johns Hopkins University, Marie Diener West, memberi gambaran singkat mengenai kurikulum dan kesempatan kerja sama riset yang mungkin dapat dilakukan.

“Johns Hopkins University merupakan kampus pertama yang mempunyai Departemen Mental Health. Selain itu juga ada program dual degree yang dapat diikuti mahasiswa,” beber Marie.

Mengingat seleksi yang kompetitif, Marie, yang merupakan Professor Biostatistika, menyarankan agar calon pelamar memperkuat keterampilan mereka serta mengingatkan pentingnya surat rekomendasi dan pernyataan pribadi yang mencerminkan alasan mereka mendaftar ke jurusan tersebut.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker