Bisnis

Pengusaha Ritel Minta Jangan Dilewatkan soal Kebijakan PPKM

Roy mengatakan, jika kebijakan dibuat terus tanpa adanya keterlibatan pihak pengusaha ritel, tentu kebijakan tersebut tak akan memihak pengusaha ritel. Adanya dialog dengan pengusaha ritel, katanya, juga sebagai bentuk bantuan dari pemerintah.

JAKARTA, DIFANEWS.COM — Pemerintah kembali membatasi dengan berlakunya PKPM Level 3 dan 4, dan berjanji akan membuka secara bertahap sebagian sektor mulai 26 Juli 2021. Kebijakan yang membatasi berbagai sektor usaha seperti toko retail ini disebut-sebut sebagai upaya guna menurunkan tingkat penularan Covid-19.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Modern Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan tak pernah diajak berdialog dengan pemerintah dalam pembuatan kebijakan. Padahal, sektor yang ada di lingkup organisasinya tersebut juga termasuk yang terdampak besar oleh pandemi di Indonesia.

“Tidak pernah diajak koordinasi dan komunikasi, ini yang sering kali terjadi, sehingga terjadi yang namanya multi tafsir dan lain-lain,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (22/7), dilansir liputan6.com.

Misalnya, katanya, dalam Inmendagri yang segera berlaku, tertulis pasar swalayan yang menimbulkan kebingungan bagi pelaku usaha ritel kelompok tersebut apakah perlu membuka usahanya atau tidak.

“Pengertian pasar swalayan itu termasuk minimarket hingga hypermarket, tapi justru karena ketidak adanya ajakan (kepada) kami, jadi pasar swalayan ini cuma (dimaksudkan bagi) kebutuhan pokok aja, padahal aturannya jelas, ada bahkan di UU Cipta Kerja,” katanya.

Lebih lanjut Roy mengatakan, jika kebijakan dibuat terus tanpa adanya keterlibatan pihak pengusaha ritel, tentu kebijakan tersebut tak akan memihak pengusaha ritel. Adanya dialog dengan pengusaha ritel, katanya, juga sebagai bentuk bantuan dari pemerintah.

Hal tersebut di samping bantuan-bantuan lainnya yang sebelumnya telah disampaikan seperti aturan bayar pajak hingga retribusi. Ia berharap pemerintah juga melirik sektor ritel modern sebagai hilir yang kini ikut semakin berat memikul beban untuk bertahan.

“Apa artinya kalau sektor hilirnya gak di bantu? Kan yang menjual ke konsumen sektor hilir. Korporasi kalau jatuh dampaknya lebih besar. Yang dibantu memang dibantu yang di bawah. Tapi yang besar juga perlu dibantu,” katanya.

Roy menuturkan dampaknya, jika toko ritel tersebut tidak beroperasi dalam waktu lama, itu akan dipailitkan, lalu investor akan pergi, dan akhirnya ekonomi akan hancur. Selain itu, juga akan berdampak pada sektor bawah seperti toko kelontong dan pedagang kecil dan yang serupa yang tergantung pada sektor ritel.

Tutup, dipailitkan, investor kabur, itu akan terjadi eknomi hancur. Karena memang itu situasi yang dilihat. Sementara kita harus menjaga kalau sektor bawah tetap terjaga.

“Kemudian ada outsourcing, itu yang gajinya harian, ada kos-kosan, transportasi online, yang mana mereka bergantung pada sektor ritel, ikut berhenti juga,” kata pengusaha toko ritel tersebut.

Ke depannya Roy berharap, apapun kebijakan yang diambil pemerintah terkait penanganan terkait rasio penularan Covid-19, ia akan tetap mendukung. Kendati demikian, ia juga meminta sektor ritel modern masuk dalam sektor yang diprioritaskan.

“Karena gak masuk prioritas, kita gak bisa restrukturisasi kredit komersial,” katanya.

Dengan demikian diharapkan sektor ritel modern bisa menyediakan kebutuhan pokok maupun harian masyarakat serta sebagai tempat pembentuk nilai konsumsi rumah tangga bagi hampir 60 persen PDB Indonesia.

Kemudian, insentif fiskal yang berkelanjutan dalam perpajakan akan menjadi penyokong untuk ritel modern dapat bertahan. Bantuan tarif listrik bagi gerai pelaku ritel modern serta subsidi gaji bagi pekerja akan mendorong ritel modern tetap bertahan.

Keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi mampu mendorong sektor ritel untuk bangkit. Misalnya, pelonggaran bagi sektor ritel yang dibolehkan membuka gerai akan mendorong pertumbuhan pada konsumsi rumah tangga hingga investasi pada ritel modern.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker