Sepakbola Indonesia

Sepakbola Indonesia Mundur Bukan karena Kompetisi Buruk, tapi karena Prestasi Timnas Nihil

JAKARTA, difanews.com — Kapan tim sepakbola nasional (Timnas) senior atau setidaknya tim U23 Indonesia sukses di tingkat Asia Tenggara? Tak usah bicara Asia, Olimpiade, atau Dunia.

Di SEA Games, Timnas terakhir jadi juara pada 1991 atau 31 tahun lalu. Berapa kali PSSI berganti pengurus dalam rentang waktu itu? Terakhir, di SEA Games 2019, Indonesia menjadi runner-up setelah kalah 0-3 dari Vietnam.

Pasti ada yang salah dalam pola pembinaan sepakbola Indonesia. Bukan salah urus, tapi kurang diurus dengan baik.

Apakah karena kompetisi di level klub yang kurang baik sehingga kompetisi? Apakah karena pembinaan di level akar rumput yang kurang tertata dengan baik sehingga turnamen atau kompetisi di kelompok umur tak berjalan dengan maksimal?

Semuanya bisa menjadi tali-temali yang akan jadi seperti benang kusut yang susah diurai.

“Nggak ada habisnya kalau kita bicarakan masalah ini,” ujar Taufik Jursal Effendi, figur yang menghabiskan waktunya lebih dari 35 tahun untuk terus membina pemain usia dini.

Kompetisi sepakbola di Indonesia memasuki era baru ketika kompetisi Perserikatan dan Galatana digabung menjadi Liga Indonesia sejak 1994. Tapi, faktanya,  sejak itu Indonesia toh tak pernah jadi juara di level SEA Games dan Asia Tenggara. Boro-boro Asia atau Asian Games.

“Sekarang bagaimana kalau kita balik?” ia bertanya.

“Kita perbaiki mutu Timnas. Timnas nggak perlu terlalu bergantung pada kompetisi klub, Liga 1 atau apapun namanya,” tambah Taufik bersemangat. “Kalau Timnas bagus, pembinaan di klub akan ikut terdongkrak. Rakyat Indonesia juga akan ikut bergairah, anak-anak muda akan terdorong untuk berlatih sepakbola dengan baik dan benar.”

Tapi, bagaimana cara meningkatkan kualitas Timnas?

Melakukan naturalisasi pemain menjadi salah satu poin yang bisa ditawarkan Taufik Jursal meski pada dasarnya ia tak begitu suka dengan ide mengambil pemain dari luar negeri karena itu memperkecil peluang pemain-pemain dalam negeri untuk bersaing.

Namun, demi kemajuan Timnas dan mendorong peningkatan level kompetisi dalam negeri, Taufik Jursal mengaku bisa berkompromi.

“Tentu ada syarat-syaratnya,” ujarnya.

Taufik Jursal Effendi
Taufik Jursal Effendi.

Yang pertama, kata Taufik, si pemain yang ingin dinaturalisasi itu harus sesuai dengan kebutuhan. Artinya, pemain tersebut memang berada pada posisi-posisi tertentu di mana Indonesia tidak memiliki pemain yang bisa diandalkan.

Yang kedua, faktor usia pemain juga wajib menjadi tolok ukur. Si pemain harus masih muda sehingga berpeluang bermain lebih lama bagi Timnas.

CV pemain juga harus diteliti dengan baik. Misalnya klub asal si pemain. Pemain yang ingin dinaturalisasi harus berada di klub di negara dengan kompetisi ketat dan terukur.

Selain itu, kepribadian dan latar belakang serta performance si pemain juga harus diketahui dengan baik.

“Masih ada sejumlah persyaratan teknis dan non-teknis lain yang juga harus menjadi persyaratan,” ujar Taufik pula.

Menurut Taufik, saat ini Timnas Indonesia butuh pemain-pemain di posisi penjaga gawang, centerback, midfielder (defender, creator, dan attacker).

Timnas membutuhkan  6 pemain2 kuat pada posisi ini.

“Jadi, naturalisasi oke, asal memang dengan pertimbangan matang,” tambah Taufik. “Kita, rakyat Indonesia ingin Garuda terbang tinggi dan Merah Putih berkibar di mancanegara.”

“Saya yakin, jika Timnas kita hebat, kompetisi ikut terangkat. Saat ini, nilai kompetisi kita jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara. Kalau ini tak segera diperbaiki PSSI, kiamatlah buat sepakbola Indonesia ke depan.”

Prestasi Indonesia di SEA Games
1977 – peringkat 4, kalah 0-2 dari Burma (Myanmar)
1979 – medali perak, kalah 0-1 dari Malaysia
1981 – medali perunggu, menang 2-0 atas Singapura
1983 – fase grup
1985 – peringkat 4, kalah 0-1 dari Malaysia
1987 – juara, menang 1-0 atas Malaysia
1989 – medali perunggu, menang 9-8 adu penalti atas Thailand
1991 – juara, menang 4-3 adu penalti atas Thailand
1993 – medali perunggu, kalah 1-3 dari Singapura
1995 – fase grup
1997 – runner-up, kalah 2-4 adu penalti dari Thailand
1999 – medali perunggu, menang 4-2 adu penalti atas Singapura
2001 – peringkat 4, kalah 0-1 dari Myanmar
2003 – fase grup
2004 – peringkat 4, kalah 0-1 dari Malaysia
2007 – fase grup
2009 – fase grup
2011 – runner-up, kalah 3-4 adu penalti dari Malaysia
2013 – runner-up, kalah 0-1 dari Thailand
2015 – peringkat 4, kalah 0-5 dari Vietnam
2017 – medali perunggu, menang 3-1 atas Myanmar
2019 – runner-up, kalah 0-3 dari Vietnam

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button