Travel

Walvanda, Dunia Lain yang Melenakan

Secara harfiah, Walvanda adalah rumah bagi suku asli Warli, yang berhasil mempertahankan sejumlah kepercayaan, adat, dan bahasa mereka di tengah-tengah tekanan urbanisasi yang makin gencar.

JAKARTA, DIFANEWS.com — Datanglah ke Walvanda, maka Anda akan disergap keheningan membuai dengan pemandangan lautan padi, segar dan hijau setelah guyuran musim penghujan.

Berada di sana, meskipun jaraknya cuma 130km dari Kota Mumbai,  yang sibuk di India, Anda serasa berada di Dunia lain.

Secara harfiah, Walvanda adalah rumah bagi suku asli Warli, yang berhasil mempertahankan sejumlah kepercayaan, adat, dan bahasa mereka di tengah-tengah tekanan urbanisasi yang makin gencar.

Ini juga salah satu dari sedikit tempat di India di mana Anda dapat menyaksikan mereka menciptakan seni khas mereka. Begitu tiba di sana, Anda serasa berada di Dunia yang baru dengan budaya yang berbeda.

Suku Warli coba terus mempertahankan tradisi yang makin keras dihantam urbanisasi.

Anda akan disambut Waman, seorang pemandu desa yang bukan cuma membawa Anda ke rumahnya, tapi juga memperkenalkan Anda dengan penduduk lain, karena Anda adalah tamu dari seluruh komunitas yang ada di sana.

Ia akan memoleskan tikka di sepanjang dahi Anda sebagai pertanda baik, dan Anda diberi bunga dan ‘topi Gandhi’ untuk dipakai selama Anda di desa –seperti yang dilakukan penduduk setempat.

Jika Anda mengetikkan kata Warli di Internet, Anda akan dijejali gambar-gambar seni mereka yang sangat detail. Sebagai bentuk cerita bergambar, lukisan-lukisan tersebut merupakan jalan bagi suku untuk memperkenalkan cara hidup mereka –dari tradisi dan kepercayaan penting hingga miniatur kehidupanmereka sehari-hari– dari generasi ke generasi.

Lukisan Suku Warli, diturunkan dari generasi ke generasi.

Memasuki rumah suku Warli, Anda harus melepaskan alas kaki di depan pintu dan tuan rumah segera menyediakan Anda sarapan pagi.

Anda, antara lain, akan disediakan Poha, beras kering yang rata yang disajikan dengan kacang tanah panggang dan irisan lemon. Ini sarapan pokok sebagian besar wilayah Maharashtra dan Walvanda tidak terkecuali.

Sembari menikmati secangkir teh panas (favorit lain dari penduduk setempat), Waman menjabarkan kegiatan hari itu, sementara keluarga tuan rumah saling berbincang dengan tips tentang apa yang harus Anda peroleh dalam perjalanan Anda.

Setelah sarapan, seorang perajin akan memandu Anda melihat-lihat proses pembuatan sebuah hasil seni.

Secara tradisional, pasta beras, permen karet dan air akan dicampur bersama untuk membuat cat, dan batang bambu yang ditumbuk berfungsi sebagai kuas cat. Selama berabad-abad, dinding rumah yang dibangun dari kotoran sapi dan lumpur , berfungsi sebagai kanvas.

Namun, seiring perubahan zaman, kanvas dan cat seperti itu sudah diganti. Orang sudah menggunakan cat akrilik dan kuas biasa digunakan. Kanvas tak lagi dinding rumah yang terbuat dari kotoran hewan melainkan batu bata dan semen.

Di masa lalu, lukisan Warli adalah ritual penting kehidupan desa, yang dilakukan selama upacara penting seperti pernikahan atau waktu panen. Pola-pola geometris yang khas dan sapuan kuas berfungsi sebagai media di mana budaya Warli diturunkan dari generasi ke generasi.

Tapi sekarang, seni Warli hanya dipraktekkan oleh beberapa di Walvanda dan desa-desa lain di wilayah tersebut, dengan karya-karya dibuat terutama untuk pameran atau untuk dijual.

Rumah Suku Warli yang masih asli.

Berjalan-jalan di desa dengan tuan rumah mengungkapkan lebih banyak nuansa cara hidup Warli. Pertanian adalah sumber mata pencaharian utama suku tersebut, dan padi – yang merupakan bagian integral dari lukisan Warli – adalah tanaman pokok.

Setiap hari warga disibukkan dengan proses membuat padi-padi menjadi beras. Bagi Anda yang hanya melihat beras di toko-toko atau di pedagang-pedagang, menyaksikan hal itu akan membuat Anda lebih menghargai nilai sebutir beras.

Selain padi, tanaman yang dirawat Suku Warli adalah bambu. Seperti juga bagi kebanyakan warga pedesaan di Indonesia, bambu memiliki sangat banyak manfaat.

Waman menjelaskan bahwa penduduk desa sempat menggunakan plastik beberapa tahun lalu, tetapi kemudian kembali ke tradisi: “Kami perlahan-lahan kembali ke ghungda (peralatan dari bambu). Kami menyadari plastik bukan pilihan yang berkelanjutan,” kata Waman.

Keunikan lain? Datanglah ke Walvanda dan temukan sendiri.

Sumber: travel.ourbetterworld.org

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker