Pengamat Komunikasi Soroti Kinerja Humas RS AR Bunda Prabumulih, Dinilai Belum Maksimal Jaga Reputasi

PRABUMULIH, DIFANEWS – Peran Hubungan Masyarakat (Humas) RS AR Bunda Prabumulih menjadi sorotan menyusul sejumlah persoalan yang mencuat dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir. Menurut pengamat komunikasi, fungsi kehumasan seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga reputasi lembaga, khususnya saat menghadapi berbagai isu yang berkembang di ruang publik.
Pengamat Komunikasi Prabumulih, Dr. Ahmad Muftizar Zawawi, S.IP, menilai humas merupakan bagian strategis dalam sebuah organisasi. Ia mengibaratkan humas sebagai “mulut” dari sebuah entitas yang bertugas menyampaikan sikap, kebijakan, sekaligus membangun citra positif organisasi kepada masyarakat.
“PR atau humas adalah mulut dari sebuah entitas atau lembaga. Jika organisasi diibaratkan sebagai tubuh, maka seluruh proses kerja internal harus menghasilkan tindakan dan komunikasi yang menunjukkan organisasi tersebut dalam kondisi sehat,” ujarnya kepada awak media, Jumat (7/8/2026).
Menurut Muftizar, di era digital saat ini arus informasi bergerak jauh lebih cepat sehingga organisasi harus mampu beradaptasi. Praktisi humas, kata dia, tidak lagi cukup hanya memiliki kemampuan menyusun narasi, promosi, dan memberikan penjelasan.
“Praktisi PR saat ini harus responsif, menguasai teknik lobi, persuasi, manajemen konflik, mampu melakukan klarifikasi terhadap informasi yang beredar, serta memiliki kemampuan teknologi informasi yang memadai,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa perusahaan maupun lembaga tidak seharusnya lagi memandang fungsi humas hanya sebagai pelengkap struktur organisasi atau sekadar beban anggaran.
“Sudah saatnya paradigma lama ditinggalkan. PR harus dipandang sebagai investasi. Jika organisasi ingin memiliki branding yang kuat dan mampu menjaga citra, maka harus menyiapkan anggaran dan sumber daya manusia yang kompeten untuk menangani berbagai isu yang muncul,” tegasnya.
Lebih lanjut, Muftizar menilai posisi humas idealnya ditempati oleh sosok yang memiliki kemampuan komunikasi tinggi, mobilitas yang baik, serta mampu mengambil peran aktif dalam membangun hubungan dengan berbagai pihak.
“PR bukan sekadar bagian yang menempel dalam struktur organisasi. Posisi ini harus diisi oleh talenta yang memiliki kemampuan, dinamis, dan mampu menjadi corong organisasi dalam menyampaikan sikap secara jelas kepada publik,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak RS AR Bunda Prabumulih belum memberikan tanggapan resmi terkait pandangan yang disampaikan pengamat komunikasi tersebut.



