Cerita Pendek

Yun Membakar Masa Lalu

Oleh: Agus Salim

Barangkali, tidak lama lagi aku akan hancur jadi puing-puing. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan sebagai takdir yang tak bisa dihapuskan.

Kini Yun memandangku dengan mata seperti berisi api. Aku bisa merasakan, dari sorot matanya itu, betapa kebencian telah menguasai dirinya. Tetapi, andai bisa berkata, maka aku akan bilang begini padanya: “Yun, kendalikan dirimu. Tak pantas kau membenciku yang kau lahirkan dari kepandaianmu. Aku tidak salah apa-apa. Ampuni aku.”

Namun, meski bisa berkata seperti itu, aku tak yakin dia mau mengampuniku. Sebab sudah terlalu lama dia memendam benci itu. Dan bahkan sudah lama pula dia ingin melenyapkan aku.

“Untuk apa memiliki dia kalau tidak ada gunanya?” tanya Yun kepada Salera, suaminya. Selain diam, Salera hanya bisa menggerakkan jakunnya, menelan ludah. Dia sudah bosan mendengar pertanyaan macam itu. Tak terhitung sudah nasihat telah dia berikan kepada Yun.

“Kenapa ini harus terjadi padaku?” tanya Yun lagi, entah kepada siapa, sambil memindahkan pandangan matanya pada bayi yang tertidur. Mungkin, dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya sudah menjadi seorang istri, dan juga seorang ibu. Mungkin juga dia masih belum percaya kalau bayi yang tertidur di sampingku itu pernah keluar dari tubuhnya.

“Seperti mimpi saja,” ujar Yun kemudian sambil mengusap-usap matanya.

Salera duduk di kursi sebelah kanan kasur. Di sebelah kanan kursi ada meja. Permukaannya kosong. Meja itu dilapisi selembar kain merah sebagai alasnya. Warnanya lusuh. Berbulan-bulan tidak diganti. Mungkin Yun tidak sempat. Kain itu bekas kerudung Yun.

Kini mata Salera yang tertuju padaku. Dari wajahnya, aku bisa menerka, kalau dia ikut resah, dan berharap Yun bisa membunuh kebenciannya, sehingga aku bisa selamat.

“Jangan bertindak bodoh, Yun. Pikirkan lagi matang-matang,” kata Salera. “Selembar kertas itu berisi sejarah kepandaianmu, Yun.”

“Aku memang bodoh, Sal,” balas Yun, tangkas. “Sangat bodoh bahkan. Kalau pintar, tidak mungkin hidupku jadi seperti ini. Kau tak usah membelanya, Sal. Dia hantu bagiku. Hantu harus dibakar.”

Aku lihat jakun Salera bergerak lambat, seperti sedang menelan ludah yang kental dan pahit. Dan matanya kini pindah ke arah lain, ke luar jendela kamar. Mungkin dia ingin menikmati kegelapan yang menyelimuti petak-petak sawah. 

Aku tahu kalau di luar sana ada petak-petak sawah karena Yun pernah membawaku ke luar rumah suatu waktu. Entah apa maksudnya. Aku hanya dilihat-lihat saja. Seolah-olah aku baru didapatkannya dari dalam mimpinya. O, ya, aku pernah mendengar Yun pernah berkata begini kepada Salera:   

“Sawah-sawah sudah banyak ditinggalkan. Pemiliknya memilih pekerjaan yang lebih menjanjikan, dan tidak ada generasi yang meneruskan. Ada juga sawah-sawah yang dijual dan uangnya digunakan sebagai ongkos pindah ke luar kota, jadi urban. Betapa menyedihkan nasib orang-orang di desa ini. Di sana, orang-orang berlomba-lomba mengubah sawah-sawah jadi batu. Sementara di sini, sawah-sawah tidak ada arti. Uang, uang, sekali lagi uang-lah yang telah mengubah cara pandang para petani. Sementara kau, cuma guru honorer berijazah SMA. Dan, aku? Aku hanya bisa jadi ibu rumah tangga yang memiliki ijazah sarjana. Ah, ijazah itu. Hantu itu. Ini semua salahmu, Sal. Kau telah merusak hidupku.”

Aku tak mendengar Salera berkata-kata apa setelah Yun berkata seperti itu. Mungkin dia menyadari kalau apa yang dikatakan Yun benar. Dan memang tidak ada yang salah. Salera memang telah merusak hidup Yun. Dan aku bisa menyampaikan sebuah kisah yang bisa dijadikan dasar bahwa ucapan Yun adalah benar. Kisah ini aku ambil dari pengakuan Yun kepada ibunya suatu malam.

Begini  kisahnya:

Hari itu aku datang ke rumah Salera karena rindu berat. Rumah Sal sepi orang. Ayah dan ibunya ada di sawah. Menanam benih padi. Sal mengajak aku duduk di ruang tamu dan pintu depan dikunci. Berbincang-bincanglah kami sebagai sepasang kekasih diamuk rindu. Bosan berbicang-bincang, Sal menggantinya dengan adegan mesra. Bibirku jadi sasaran bibir Sal. Karena nafsunya sudah memuncak, dia meminta adegan yang lain. Sekuat tenaga menolak. Tapi tenaga Sal lebih kuat. Akhirnya, dia berhasil memperkosa tubuhku. Dia melakukannya dua kali.   

Ya, begitulah kisahnya. Kisah itu menjadi sebab dia segera dinikahkan dengan Sal setelah berhasil mendapatkan aku karena kabar kabur telanjur menyebar. Kisah itu juga yang menjadi sebab dia diusir ke rumah orangtua Sal setelah dinikahkan karena sang ibu tak mau lama-lama menanggung malu. Dan sebenarnya, Yun tidak mau membawaku dalam kepergiannya. Karena dia tak mau terganggu dan ingin fokus membuka lembaran baru yang benar-benar bersih dari masa lalu. Tapi Sal, berhasil membujuknya. Dan aku pun dibawa serta dalam kepergiannya walau mungkin Yun bersedih hatinya.

Setelah lama saling diam, Yun meraih korek api yang tergeletak di atas tubuhku. Lalu, tanpa ragu, dia menggenggam tubuhku. Aku bisa merasakan getar kebencian dari geganggamannya itu. Tapi belum sempat bangkit, Sal berusaha mencegahnya.

“Jangan, Yun.”

“Kenapa?”

“Ibumu sudah banyak keluar biaya agar kau bisa mendapatkan ijazah itu.”

“Dia masa laluku, Sal. Dia hantu! Aku tak mau terus-terusan dihantui masa lalu, Sal.”

“Tapi kau bisa pura-pura melupakannya.”

“Tidak bisa, Sal. Selama dia masih ada, aku tidak bisa berpura-pura, Sal.”  

Sal tidak berkata-kata lagi. Yun bangkit dan melangkah, membawaku pergi menuju dapur yang berlantai tanah. Sesampainya di dapur, tanpa bicara lagi, dia membakarku. Dimulai dari sudut, dan pelan-pelan api menyebar sampai menguasai seluruh tubuhku. Aku pun jadi puing-puing hitam yang halus dan tipis. Jika disentuh, puing-puing tubuhku pasti hancur. Tapi, aku masih bisa mendengar Yun mengatakan sesuatu pada Sal.  

“Aku lega, Sal. Sangat lega. Meski tanpa ijazah itu, aku yakin bisa menjadi apa yang aku inginkan. Paling tidak, aku bisa menjadi guru yang baik untuk anak-anakku.” Asoka, 2019

Biodata Singkat Penulis:
Agus Salim, lahir di Sumenep, 18 Juli 1980, tinggal di jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017. Bisa dihubungi di nomor 085856524605.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker